A.
Pendahuluan
Setelah khilafah Abbasiyah di Baghdad
runtuh akibat serangan tentara Mongol, kekuatan politik Islam mengalami
kemunduran secara drastis. Wilayah kekuasaannya tercabik-cabik dalam beberapa
kerajaan kecil yang satu sama lain bahkan saling memerangi. Beberapa
peninggalan budaya dan peradaban Islam banyak yang hancur akibat serangan
bangsa Mongol itu. Namun, kemalangan tidak berhenti sampai di situ. Timur Lenk
telah menghancurkan pusat-pusat kekuasaan Islam yang lain.
Keadaan
politik umat Islam secara keseluruhan baru mengalami kemajuan kembali setelah
muncul dan berkembangnya tiga kerajaan besar: Usmani di Turki, Mughal di India,
dan Safawi di Persia. Kerajaan Usmani, di samping yang pertama berdiri, juga
yang terbesar dan paling lama bertahan dibanding dua kerajaan lainnya.
Dari sekian lama kekuasaan Turki Usman sekitar
625 tahun berkuasa tidak kurang dari tiga puluh delapan sultan yang menjadi
pemimpin pada kerajaan tersebut. Sejak kekuasaan dipegang oleh Musthafa Kamal,
Turki telah jauh secara total dari Islam. Dia menghapus Khilafah Islamiyah
terakhir di Turki, dan memutuskan semua hubungan dengan Islam di negara-negara
Islam. Dia mengganti undang-undang Usmani dengan undang-undang modern (Swiss),
lalu mendorong Turki ke arah sekularisme (paham yang memisahkan agama dari
dunia).
Pada makalah ini akan dibahas mengenai Kerajaan Usmani yang
meliputi Asal-usul, perkembangan, kemajuan, Pembaharuan, kemunduran dan
kehancurannya.
B.
Asal-usul Dan Perkembangan Turki Usmani
Pendiri
kerajaan ini adalah bangsa Turki dari kabilah Oghuz yang mendiami daerah Mongol
dan daerah utara negeri Cina. Dalam jangka waktu kira-kira tiga abad, mereka pindah
ke Turkistan kemudian Persia dan Irak. Mereka masuk Islam sekitar abad
kesembilan atau kesepuluh, ketika mereka menetap di Asia Tengah. Di bawah tekanan serangan-serangan Mongol pada abad
ke13 M, mereka melarikan diri ke daerah barat dan mencari tempat pengungsian
di tengah-tengah saudara-saudara mereka, orang-orang Turki Seljuk, di dataran
tinggi Asia kecil[1]. Di sana, di bawah pimpinan Ertoghrul, mereka mengabdikan
diri kepada Sultan Alauddin II, Sultan Seljuk yang kebetulan sedang berperang
melawan Bizantium. Berkat bantuan mereka, Sultan Alauddin mendapat kemenangan.
Atas jasa baik itu, Alauddin menghadiahkan sebidang tanah di Asia Kecil yang
berbatasan dengan Bizantium. Sejak itu mereka terus membina wilayah barunya
dan memilih kota Syukud sebagai ibu kota[2].
Ertoghrul meninggal dunia
tahun 1289 M. Kepemimpinan dilanjutkan oleh puteranya, Usman. Putera Ertoghrul
inilah yang dianggap sebagai pendiri kerajaan Usmani. Usman memerintah antara
tahun 1290 M dan 1326 M. Sebagaimana ayahnya, ia banyak berjasa kepada Sultan
Alauddin II dengan keberhasilannya menduduki benteng-benteng Bizantium yang
berdekatan dengan kota Broessa. Pada tahun 1300 M, bangsa Mongol menyerang
kerajaan Seljuk dan Sultan Alauddin terbunuh. Kerajaan Seljuk Rum ini kemudian
terpecah-pecah dalam beberapa kerajaan kecil. Usman pun menyatakan kemerdekaan
dan berkuasa penuh atas daerah yang didudukinya. Sejak itulah kerajaan Usmani
dinyatakan berdiri. Penguasa pertamanya adalah Usman yang sering disebut juga
Usman I.
Setelah Usman I mengumumkan
dirinya sebagai Padisyah Al-Usman (raja besar keluarga Usman) tahun 699
H (1300 M) setapak demi setapak wilayah kerajaan dapat diperluasnya. Ia
menyerang daerah perbatasan Bizantium dan menaklukkan kota Broessa tahun 1317
M, kemudian pada tahun 1326 M dijadikan sebagai ibu kota kerajaan. Pada masa
pemerintahan Orkhan (726 II/1326 M-761 H/1359 M) Kerajaan Turki Usmani ini
dapat menaklukkan Azmir (Smirna)
tahun 1327 M, Thawasyanli (1330 M), Uskandar (1338 M), Ankara (1354 M), dan
Gallipoli (1356 M). Daerah ini adalah bagian benua Eropa yang pertama kali
diduduki kerajaan Usmani.
Ketika
Murad I, pengganti Orkhan, berkuasa (761 H/1359 M - 789 H/1389 M), selain
memantapkan keamanan dalam negeri, ia melakukan perluasan daerah ke Benua
Eropa. Ia dapat menaklukkan Adrianopel yang kemudian dijadikannya sebagai ibu
kota kerajaan yang baru, Macedonia, Sopia, Salonia, dan seluruh wilayah bagian
utara Yunani. Merasa cemas terhadap kemajuan ekspansi kerajaan ini ke Eropa,
Paus mengobarkan semangat perang. Sejumlah besar pasukan sekutu Eropa disiapkan
untuk memukul mundur Turki Usmani. Pasukan ini dipimpin oleh Sijisman, raja
Hongaria. Namun Sultan Bayazid I (1389-1403 M), pengganti Murad I, dapat
menghancurkan pasukan sekutu Kristen Eropa tersebut. Peristiwa ini merupakan
catatan sejarah yang amat gemilang bagi umat Islam.
Ekspansi
kerajaan Usmani sempat terhenti beberapa lama. Ketika ekspansi diarahkan ke
Konstantinopel, tentara Mongol yang dipimpin Timur Lenk melakukan serangan ke
Asia Kecil. Pertempuran hebat terjadi di Ankara tahun 1402 M. Tentara Turki
Usmani mengalami kekalahan. Bayazid bersama puteranya Musa tertawan dan wafat
dalam tawanan tahun 1403 M.
Kekalahan
Bayazid di Ankara itu membawa akibat buruk bagi Turki Usmani. Penguasa-penguasa
Seljuk di Asia Kecil melepaskan diri dari genggaman Turki Usmani.
Wilayah-wilayah Serbia dan Bulgaria juga memproklamasikan kemerdekaan. Dalam
pada itu putera-putera Bayazid saling berebut kekuasaan. Suasana buruk ini baru
berakhir setelah Sultan Muhammad I (1403-1421 M) dapat mengatasinya. Sultan
Muhammad berusaha keras menyatukan negaranya dan mengembalikan kekuatan dan
kekuasaan seperti sedia kala.
Setelah Timur Lenk meninggal dunia tahun 1405
M, kesultanan Mongol dipecah dan
dibagi-bagi kepada putera-puteranya yang satu sama lain saling berselisih.
Kondisi ini dimanfaatkan oleh penguasa Turki Usmani untuk melepaskan diri dan
kekuasaan Mongol. Namun, pada saat seperti itu juga terjadi perselisihan
antara putera-putera Bayazid (Muhammad, Isa, dan Sulaiman). Setelah sepuluh
tahun perebutan kekuasaan terjadi, akhirnya Muhammad berhasil mengalahkan
saudara-saudaranya. Usaha Muhammad yang pertama kali ialah mengadakan perbaikan-perbaikan
dan meletakkan dasar-dasar keamanan dalam negeri. Usahanya ini diteruskan oleh
Murad II (1421-1451 M), sehingga Turki Usmani mencapai puncak kemajuannya pada
masa Muhammad II atau biasa disebut Muhammad al-Fatih (1451-1484 M).
Sultan Muhammad al-Fatih dapat mengalahkan
Bizantium dan menaklukkan Konstantinopel tahun 1453 M. Dengan terbukanya
Konstantinopel sebagai benteng pertahanan terkuat Kerajaan Bizantium, lebih
mudahlah arus ekspansi Turki Usmani ke Benua Eropa. Akan tetapi ketika Sultan
Salim I (1512-1520 M) naik tahta, ia mengalihkan perhatian ke arah timur dengan
menaklukkan Persia, Syria dan dinasti Mamalik di Mesir. Usaha Sultan Salim I
ini dikembangkan oleh Sultan Sulaiman al-Qanuni (15-1566 M.). Ia tidak
mengarahkan ekspansinya ke salah satu timur atau barat, tetapi seluruh wilayah
yang berada di sekitar Turki Usmani merupakan obyek yang menggoda hatinya.
Sulaiman berhasil menundukkan Irak, Beigrado, Pulau Rodhes, Budapest, dan
Yaman. Dengan demikian, luas wilayah usmani pada masa Sultan Sulaiman al-Qanuni
mencakup Asia Kecil, Armenia, Irak, Siria, Hejaz, dan Yaman di Asia; Mesir,
Libia, Tunis, dan Aljazair di Afrika; Bulgaria, Yunani, Yugoslavia, Albania, Hongaria,
dan Rumania di Eropa[3].
Setelah
Sultan Sulaiman meninggal dunia, terjadilah perebutan kekuasaan antara
putera-puteranya, yang menyebabkan kerajaan Turki Usmani mundur. Akan tetapi,
meskipun terus tengalami kemunduran, kerajaan ini untuk masa beberapa abad masih
dipandang sebagai negara yang kuat, terutama dalam bidang militer. Kerajaan ini
memang masih bertahan lima abad lagi setelah itu.
Syafiq
A. Mughni menjelaskan dari sekian lama kekuasaan Turki Usman sekitar 625 tahun
berkuasa tidak kurang dari tiga puluh delapan sultan, yang sejarah kekuasaan
mereka bisa dibagi menjadi lima periode sebagai berikut.
1. Periode Pertama (1299-1402)
Periode ini dimulai dari berdirinya kerajaan,
ekspansi pertama sampai kehancuran sementara oleh serangan Timur.
Sultan-sultannya adalah sebagai berikut :
a. Usman I 1299-1326
b. Orkhan (putera Usman I) 1326-1359
c. Murad I (putera Orkhan) 1359-1389
d. Bayazid I Yildirim (putera Murad I) 1389-1402
2. Periode Kedua (1402-1566)
Periode ini ditandai dengan restorasi kerajaan dan cepatnya pertumbuhan
sampai ekspansinya yang terbesar. Sultan-sultannya adalah:
5. Muhammad I (putera Bayazid I) 1403-1421
6. Murad II (putera Muhammad I) 1421-1451
7. Muhammad II Fatih (putera Murad II) 1451-1481
8. Bayazid II (putera Muhammad II) 1481-1512
9. Salim I(putera Bayazid II) 1512-1520
10. Sulaiman I Qanuni (putera Salim I) 1520-1566
3. Periode
Ketiga (1566-1699)
Periode ini ditandai dengan kemampuan Usmani untuk mempertahankan
wilayahnya, sampai lepasnya Hungaria. Namun, kemuduran segera terjadi.
Dalam
masa kemunduran Turki Usmani setelah Sulaiman, terdapat beberapa sultan yang
berkuasa berturut-turut sebagai berikut :
|
11.
Salim II (putera Sulaiman I)
|
1566-1573
|
|
12.
Murad III ( putera Salim II)
|
1573-1596
|
|
13.
Muhammad III (putera Murad III)
|
1596-1603
|
|
14.
Ahmad I (putera Muhammad III)
|
1603-1617
|
|
15.
Mustafa I (putera Muhammad III)
|
1617-1618
|
|
16.
Usman II (putera Ahmad I)
|
1618-1622
|
|
17.
Mustafa I (yang kedua kalinya)
|
1622-1623
|
|
18.
Murad IV (putera Ahmad I)
|
1623-1640
|
|
19.
Ibrahim I (putera Ahmad I)
|
1640-1648
|
|
20.
Muhammad IV (putera Ibrahim I)
|
1648-1687
|
|
21.
Sulaiman III (putera Ibrahim I)
|
1687-1691
|
|
22.
Ahmad II (putera Ibrahim I)
|
1691-1695
|
|
23.
Mustafa II (putera Muhammad IV)
|
1695-1703
|
4. Periode Keempat (1699-1839)
Periode ini ditandai dengan secara berangsur-angsur surutnya kekuatan
kerajaan dan pecahnya wilayah di tangan Para penguasa wilayah. Sultan-sultannya
adalah sebagai berikut :
|
24.
Ahmad III (putera Muhammad IV)
|
1703-1730
|
|
25.
Mahmud I (putera Mustafa II)
|
1730-1754
|
|
26.
Usman HI (putera Mustafa II)
|
1754-1757
|
|
27.
Mustafa III (putera Ahmad III)
|
1757-1774
|
|
28.
Abdul Hamid I (putera Ahmad III)
|
1774-1788
|
|
29.
Salim III ( putera Mustafa III)
|
1789-1807
|
|
30.
Mustafa IV (putera Abd al-Hamid I)
|
1807-1808
|
|
31.
Mahmud H ( putera Abd al-Hamid I)
|
1808-1839
|
5. Periode Kelima (1839-1922)
Periode ini ditandai dengan kebangkitan
kultural dan administratif dari negara di bawah pengaruh ide-ide Barat. Sultan-sultannya
adalah sebagai berikut:
|
32.
Abdul Majid I (putera Mahmud II)
|
1839-18
|
61
|
|
33.
Abdul Aziz (putera Mahmud II)
|
1861-18
|
76
|
|
34.
Murad V (putera Abd al-Majid I)
|
1876-18
|
76
|
|
35.
Abdul Harnid II (putera Abd al-Majid I)
|
1876-19
|
09
|
|
36.
Muhammad V (putera Abd al-Majid I)
|
1909-18
|
18
|
|
37.
Muhammad VI (putera Abd al-Majid I)
|
1918-19
|
22
|
38. Abdul Majid II (1922-1924), hanya bergelar
khalifah, tanpa sultan, yang akhirnya di turunkan pula dari jabatan khalifah.
Turki Usmani dihapus oleh Kemal Attaturk, dan Turki menjadi negara nasional
Republik Turki[4].
Berikut ini
daftar keturunan para sultan keluarga usman[5]
|
Salim II
(974-982H)
|
|
Murad III
(982-1003H)
|
|
Muhammad
III (1003-1012H)
|
|
Ahmad II
(1102-1106H)
|
|
Muhammad IV
91058-1099H)
|
|
Sulaiman
III (1099-1102H)
|
|
Ahmad III
(1115-1143H)
|
|
Musthafa II
(1106-1115H)
|
|
Utsman III
(1168-1171H)
|
|
Mahmud I
(1143-1168H)
|
|
Ahmad I
(1021-1026H)
|
|
Musthafa I
(1026-1027H)
|
|
Murad IV
(1032-1049H)
|
|
Ibrahim I
(1049-1058H)
|
|
Utsman II
(1027-1031H)
|
|
Sulaiman
|
|
Urthogal
|
|
Utsman I
(Pendiri) (699-726H)
|
|
Urkhan
(726-761H)
|
|
Murad I
(761-791H)
|
|
Beyzid I
(791-805H)
|
|
Muhammad I
(816-855H)
|
|
Murad II
(824-855H)
|
|
Muhammad II
(Al-Fatih) (855-886H)
|
|
Beyzid II
(886-918H)
|
|
Salim I
(918-926H)
|
|
Sulaiman
al-Qanuni (926-974H)
|
|
Para Khalifah Pada Masa Kelemahan
|
|
Ahmad III
|
|
Abdul Hamid
I (1187-1203H)
|
|
Musthafa
III (1171-1187H)
|
|
Musthafa IV
(1222-1223H)
|
|
Mahmud II
(1223-1255H)
|
|
Abdul Aziz
(1277-1293H)
|
|
Abdul Majid
(1255-1277H)
|
|
Muhammad VI
(wahiduddin)
(1337-1340H)
|
|
Muhammad V
(Rasyad)
(1328-1337H)
|
|
Abdul Hamid
II
(1293-1328H)
|
|
Murad V
(1293-1293H)
|
|
Abdul Majid
II (1340-1342H)
|
|
Para Khalifah pada Masa Kemerosotan dan Kemunduran
|
Peta Wilayah Kekuasaan Kerajaan Utsmani[6]
C.
Kemajuan Turki Usmani
Kemajuan
dan perkembangan ekspansi kerajaan Usmani yang demikian luas dan berlangsung
dengan cepat itu diikuti pula oleh kemajuan-kemajuan dalam bidang-bidang
kehidupan yang lain. Yang terpenting di antaranya adalah sebagai berikut.
1. Bidang Kemiliteran dan Pemerintahan
Para pemimpin
kerajaan Usmani pada masa-masa pertama, adalah orang-orang yang kuat, sehingga
kerajaan dapat melakukan ekspansi dengan cepat dan luas. Meskipun demikian,
kemajuan Kerajaan Usmani sehingga mencapai masa keemasannya itu, bukan
semata-mata karena keunggulan politik para pemimpinnya. Masih banyak faktor
lain yang mendukung keberhasilan ekspansi itu. Yang terpenting diantaranya
adalah keberanian, keterampilan, ketangguhan dan kekuatan militemya yang sanggup
bertempur kapan dan di mana saja.
Untuk
pertama kali, kekuatan militer kerajaan ini mulai diorganisasi dengan baik dan
teratur ketika teljadi kontak senjata dengan Eropa. Ketika itu, pasukan tempur
yang besar sudah terorganisasi. Pengorganisasian yang baik, taktik dan strategi
tempur militer Usmani berlangsung tanpa halangan berarti. Namun, tidak lama
setelah kemenangan tercapai, kekuatan militer yang besar ini dilanda
kekisruhan. Kesadaran prajuritnya menurun. Mereka merasa dirinya sebagai
pemimpin-pemimpin yang berhak menerima gaji. Akan tetapi keadaan tersebut
segera dapat diatasai oleh Orkhan dengan jalan mengadakan perombakan
besar-besaran dalam tubuh militer.
Pembaruan
dalam tubuh organisasi militer oleh Orkhan, tidak hanya dalam bentuk mutasi
personil-personil pimpinan, tetapi juga diadakan perombakan dalam keanggotaan.
Bangsa-bangsa non-Turki dimasukkan sebagai anggota, bahkan anak-anak Kristen
yang masih kecil diasramakan dan dibimbing dalam suasana Islam untuk dijadikan
prajurit. Program ini ternyata berhasil dengan terbentuknya kelompok militer
baru yang disebut pasukan Jenissari atau Inkisyariah. Pasukan
inilah yang dapat mengubah negara Usmani menjadi mesin perang yang paling kuat,
dan memberikan dorongan yang amat besar dalam penaklukkan negri-negeri non muslim.
Di samping Jenissari, ada lagi prajurit dari
tentara kaum feodal yang dikirim kepada pemerintah pusat. Pasukan ini disebut tentara atau kelompok militer Thaujiah. Angkatan
laut pun dibenahi, karena ia mempunyai peranan yang besar dalam perjalanan
ekspansi Turki Usmani. Pada abad ke 16 angkatanlaut Turki Usmani mencapai
puncak kejayaannya. Kekuatan militer Turki Usmani yang tangguh itu dengan cepat
dapat menguasai wilayah yang amat luas, baik di Asia, Afrika, maupun Eropa.
Faktor utama yang mendorong kemajuan di lapangan kemiliteran ini ialah tabiat bangsa
Turki itu sendiri yang bersifat militer, berdisiplin, dan patuh terhadap
peraturan. Tabiat ini merupakan tabiat alami yang mereka warisi dari nenek moyangnya
di Asia Tengah.
Keberhasilan
ekspansi tersebut dibarengi pula dengan terciptanya jaringan pemerintahan yang
teratur. Dalam mengelola wilayah yang luas sultan-sultan Turki Usmani
senantiasa bertindak tegas. Dalam struktur pemerintahan, sultan sebagai
penguasa tertinggi,2 dibantu oleh shadr al-a' zham (perdana
menteri), yang membawahi pasya (gubernur). Gubernur mengepalai daerah tingkat
I. Di bawahnya terdapat beberapa orang al-zanaziq atau alalawiyah (bupati)[7].
Untuk
mengatur urusan pemerintahan negara, di masa Sultan Sulaiman I disusun sebuah
kitab undang-undang (qanun). Kitab tersebut diberi nama Multaqa
al-Abhur, yang menjadi pegangan hukum bagi kerajaan Turki Usmani sampai
datangnya reformasi pada abad ke-19. Karena jasa Sultan Sulaiman I yang amat
berharga ini, di ujung namanya ditambah gelar al-Qanuni.[8]
2.
Bidang Ilmu Pengetahuan dan Budaya
Kebudayaan
Turki Usmani merupakan perpaduan bennaam-macam kebudayaan, diantaranya adalah
kebudayaan Persia, Bizantium, dan Arab. Dan kebudayaan Persia, mereka banyak mengambil
ajaran-ajaran tentang etika dan tata krama dalam istana raja-raja. Organisasi
pemerintahan dan kemiliteran banyak mereka serap dari Bizantium. Sedangkan
ajaran-ajaran tentang prinsip-prinsip ekonomi, sosial dan kemasyarakatan, keilmuan
dan huruf mereka terima dan bangsa Arab. Orang-orang Turki Usmani memang
dikenal sebagai bangsa yang suka dan mudah berasimilasi dengan bangsa asing dan
terbuka untuk menerima kebudayaan luar. Hal ini mungkin karena mereka masih
miskin dengan kebudayaan. Bagaimanapun, sebelumnya mereka adalah orang nomad
yang hidup di dataran Asia Tengah.
Sebagai
bangsa yang berdarah minter, Turki Usmani lebih banyak memfokuskan kegiatan
mereka dalam bidang kemiliteran, sementara dalam bidang ilmu pengetahuan,
mereka kelihatan tidak begitu menonjol. Karena itulah di dalam khazanah intelektual
Islam kita tidak menemukan ilmuwan terkemuka dari Turki Usmani. Namun demikian,
mereka banyak berkiprah dalam pengembangan seni arsitektur Islam berupa
bangunan-bangunan mesjid yang indah, seperti Masjid Al-Muhammadi atau Mesjid
Jami' Sultan Muhammad Al-fatih, Mesjid Agung Sulaiman dan Mesjid Abi Ayyub
al-Anshari. Mesjid-mesjid tersebut dihiasi pula dengan kaligrafi yang indah.
Salah satu mesjid yang terkenal dengan keindahan kaligrafinya adalah mesjid
yang asalnya gereja Aya Sopia. Hiasan kaligrafi itu, dijadikan penutup
gambar-gambar Kristian yang ada sebelumnya.
Pada
masa Sulaiman di kota-kota besar dan kota-kota lairmya banyak dibangun mesjid,
sekolah, rumah sakit, gedung, makam, jembatan, saluran air, villa, dan
pemandian umum. Disebutkan bahwa 235 buah dan bangunan itu dibangun di bawah
koordinator Sinan, seorang arsitek asal Anatolia[9].
Dalam
lapangan ilmu pengetahuan secara orisinil memang sedikit sekali munculnya
ilmuwan besar diantaranya:
1.
Haji
Kholifa, nama lengkapnya Mustafa ibn Abdullah wafat tahun 1068 H/1685M, seorang
yang berpengetahuan luas, prajurit yang berani, dan pengarang yang cakap. Kitab
karangannya banyak mengenai sejarah, ilmu bumi, sejarah hidup dan soal-soal
lain. Diantaranya:
a. kasyfu
al-Dzunun, kamus yang memuat kira-kira 14.500 buah nama
kitab dalam bahasa arab yang disusun menurut abjad.
b. Taqwimu
al-Tawarikh
c. Tuhfatu
al-Kibar fi Asfari al-Bihar, tentang armada daulah Usmaniyah
d. Mizan
al-Haq Fi Ikhtiyaeri al-Ahaq, tentang
tasawuf.
2.
Daulah
Inthaqy, nama lengkapnya Daud ibn Umar al-Inthaqy al-Dharif wafat 1008H/1598M,
dokter terkenal pada zamannya, seorang pengarang ilmu dalam bidangnya. Diantara
karangannya:
a.
Tadzkirah
Ulil Albab wa al-jumu’u lil -ujbi al-ujab, tentang
ilmu kedokteran sebanyak tiga jilid
b.
An-Nuzhatu
al-Muhbiyah Fi tasyhizil Azhan wa Ta’dili al-Amzijah, juga
tentang ilmu kedokteran.
Atas
pengaruh Jalaludin Rumi, seni bersyair berkembang di dunia Islam, khususnya di
Turki pada masa Daulah Usmaniyah. Penyair-penyair ternama di Turki diantaranya
terdapat Sultan Walid, putra Jalaludin Rumi, Yazzi Oghlu sangat ternama karena
syairnya tentang sejarah hidup nabi Muhammad, syekh Zada telah mengarangkan
“sejarah empat puluh menteri” yang dipersembahkan kepada Sultan Murad II dan
penyair-penyair besar lainnya.
Dalam
bidang arsitektur, daulah Usmaniyah mempunyai madzhab tersendiri yang disebut gaya/style
Usmaniyah. Gaya ini muncul ketika Usmaniyah dapat mengalahkan kerajaan
Byzantium. Pertemuan Arsitektur Byzantium dan Turki Usmaniyah itu telah
melahirkan suatu gaya yang baru. Perwujudannya dalam bentuk qubah setengah
lingkaran dengan pilar-pilar besar sebagaiman terlihat pada bentuk qubah masjid
Istiqlal di Indonesia. Sejak itu bermunculan masjid baru dengan style Usmani,
yang termegah adalah masjid Aya Sophia[10].
3. Bidang
Keagamaan
Agama
dalam tradisi masyarakat Turki mempunyai peranan besar dalam lapangan sosial
dan politik. Masyarakat digolong-golongkan
berdasarkan agama, dan kerajaan sendiri sangat terikat dengan syariat sehingga
fatwa ulama menjadi hukum yang berlaku. Karena itu, ulama mempunyai tempat
tersendiri dan berperan besar dalam kerajaan dan masyarakat. Mufti, sebagai
pejabat urusan agama tertinggi, berwenang memberi fatwa resmi terhadap
problema keagamaan yang dihadapi masyarakat.Tanpa legitimasi Mufti, keputusan
hukum kerajaan bisa tidak berjalan.
Dalam
rentangan abad lima belas dan enam belas Usmani menjadikan thariqat sufi
dibawah pengawasan negara. Negara mengambil alih kewenangan terhadap
tekke-tekke sufi dengan menyediakan dana subsidi yang permanen terhadap
kegiatan-kegiatan kebaktian. Kalangan thariqat Bektashi, utamanya berada
dibawah pengawasan Usmani sebagai sekolah tentara bagi pasukan jenissari.
Mereka hidup dan berkumpul bersama tentara dan memberikan kepada mereka
perlindungan magis di medan peperangan. Hal ini memungkinkan thariqat ini
tersebar luas dipenjuru Anatolia Timur dan dikalangan migran Turki di Macedonia
dan Albania. Pada awal abad enam belas pimpinanThariqat ini yakni sultan Balim,
diresmikan oleh Sultan Usmani. Kalangan thariqat Mevlevi juga berhubungan dekat
dengan negara Usmani, mereka diberi hak untuk mempersiapkan sebuah pedang suci
pada saat pelantikannya[11].
Di pihak
lain, kajian-kajian ilmu keagamaan, seperti fikih, ilmu kalam, tafsir, dan
hadis boleh dikatakan tidak mengalami perkembangan yang berarti. Para penguasa
lebih cenderung untuk menegakkan satu paham (mazhab) keagamaan dan menekan
mazhab lainnya. Sultan Abdul Al-Hamid II misalnya begitu fanatik terhadap
aliran Asy'ariyah. Ia merasa perlu mempertahankan aliran-aliran tersebut dari kritikan
aliran lain. Ia memerintahkan kepada Syekh Husein al-Jisri menulis kitab Al-Hushun
Al-Hamidiyah (Benteng pertahanan Abdul Hamid) untuk melestarikan aliran
yang dianutnya itu. Akibat kelesuan di bidang ilmu keagamaan dan fanatik yang
berlebihan, maka ijtihad tidak berkembang. Ulama hanya suka menulis buku dalam
bentuk syarah (penjelasan) dan hasyiyah (semacam catatan)
terhadap karya-karya masa klasik.
Bagaimanapun,
kerajaan Turki Usmani banyak berjasa, terutama dalam perluasan wilayah kekuasaan
Islam ke benua Eropa. Ekspansi kerajaan ini untuk pertama kalinya lebih banyak
ditujukan ke Eropa Timur yang belum masuk dalam wilayah kekuasaan dan agama
Islam. Akan tetapi, karena dalam bidang peradaban dan kebudayaan - kecuali dalam
hal-hal yang bersifat fisik - perkembangannya jauh berada di bawah kemajuan
politik, maka bukan saja negeri-negeri yang sudah ditaklukkan itu, akhimya
melepaskan diri dari kekuasaan pusat, tetapi juga masyarakatnya tidak banyak
yang memeluk agama Islam[12].
D.
Pembaharuan Islam di Turki
Sebelum Islam masuk ke Turki, bangsa Turki memeluk agama Majusi,
Budha dan agama lainnya. Bangsa Turki termasuk bangsa campuran antara bangsa
Mongol dan bangsa lainnya di Asia Tenggara. Ketika bangsa Arab mengembangkan
panji Islam ke Persia, terjadilah kontak pertama antara orang Arab dengan orang
Turki. Sejak itu masuklah ajaran Islam ke Turki dan akhirnya Islam berkembang
dengan suburnya di daerah itu.
Pada
tahun 1037 sultan Turki Saljuk dapat menguasai kekhalifahan Abbasiyah. Akan
tetapi, kemudian tenggelam dilumpuhkan oleh bangsa mongol dibawah pimpinan
Djengis Khan. Bangsa Turki yang dipimpin oleh Ertghril, selanjutnya menjelma
menjadi Turki Usmani yang kekuasaannya memuncak antara tahun 1520-1566, dibawah
pemerintahan sulaiman I. Walaupun demikian, akhirnya bangsa ini juga mengalami
keruntuhan pada abad ke 19 M. bangsa Turki yang semula bersifat keras itu,
akhirnya jatuh amblas menjadi masa bodoh dan kurang mengembangkan teknik
perang. Tenaga militernya pun di akhir kejayaannya hampir lenyap.
Walau
Turki mengalami kemunduran, namun kemudian di lain masa bisa bangkit kembali.
Kebangkitannya, berkat ketekunan tokoh-tokohnya yang mengadakan modernisasi
pada beberapa aspek kehidupan.
Gelombang kebangkitan yang dinamis, dimotori oleh golongan-golongan
masyarakat yang ada di Turki. Secara singkat golongan-golongan yang muncul di
Turki dengan ide pembaharuannya, antara lain:
1.
Tanzimat
Istilah Tanzimat berasal dari bahasa arab, dari kalimat “tanzim”
yang berarti pengaturan. Secara terminology tanzimat dimaksudkan sebagai suatu
usaha pembaharuan yang mengatur dan menyusun serta memperbaiki struktur
organisasi pemerintah, sosial, ekonomi dan kebudayaan. Secara khusus untuk
menyebut pergerakan pembaharuan khas yang muncul di Turki, terjadi antara tahun
1983-1971.
Tokoh-tokoh Tanzimat antara lain ialah Mahmed Sadik Rif’at Pasya,
Mustafa Sami Pasya, Mustafa Rasyid Pasya, Ali Pasya dan Fu’ad Pasya[13].
2.
Usmani Muda
Golongan Intelegensia Kerajaan Usmani yang banyak menentang
kekuasaan Absolut Sultan dikenal dengan nama Usmani Muda (Yeni Usmanlilar –
Young Ottoman). Pemikiran-pemikiran yang dimajukan pemuka-pemuka Usmani
mudalah yang mempengaruhi pembaharuan yang diadakan sesudah zaman Tanzimat.
Zaman Tanzimat berakhir dengan wafatnya Ali Pasya di tahun 1871. Usmani Muda
pada asalnya merupakan perkumpulan rahasia yang didirikan di tahun 1865 dengan
tujuan untuk merobah pemerintahan absolut kerajaan Usmani menjadi pemerintahan
konstitusional. Setelah rahasia terbuka pemuka-pemukanya lari ke Eropa ditahun
1867 dan disanalah gerakan mereka memperoleh nama Usmani muda. Sebahagian dari
mereka kembali ke Istanbul setelah Ali Pasya tiada lagi.
Pemikir-pemikir Usmani muda diantaranya adalah Ziya Pasya
(1825-1880), Namik Kemal (1840-1888), Ali Sefkati (1838-1878)[14].
3.
Turki Muda
Setelah Sultan Abdul Hamid membubarkan parlemen dan hancurnya
gerakan Usmani muda, ia terus memerintah dengan kekuasaan yang lebih absolut.
Dalam suasana demikianlah timbullah gerakan-gerakan oposisi terhadap
pemerintahan absolut Sultan Abdul Hamid. Oposisi dikalangan Perguruan tinggi
mengambil bentuk perkumpulan-perkumpulan rahasia. Dikalangan intelegensia
pemimpin-pemimpinnya lari ke luar negeri dan dari sana melanjutkan oposisi
mereka. Gerakan dikalangan militer menjelma dalam bentuk komite-komite rahasia.
Oposisi yang berbagai kelompok inilah yang kemudian dikenal dengan nama Turki
Muda.
Ide perjuangan
Turki Muda antara lain dimajukan oleh tiga pemimpin, Ahmed Riza (1859-1931),
Mehmed Murad (1853-1912) dan pangeran Sabahuddin (1877-1948).
4.
Mustafa Kemal Attaturk.
Mustafa Kemal adalah seorang pemimpin Turki baru yang menyalamatkan
kerajaan Usmani dari kehancuran total dan bangsa Turki dari penjajahan Eropa.
Dia adalah pencipta Turki Modern dan atas jasanya ia mendapat gelar Attaturk
(bapak Turki).
Dahulunya adalah seorang perwira dalam pasukan Usmaniyah. Lalu, dia
bergabung ke dalam organisasi Turki Muda. Namanya mulai bersinar pada tahun
1334H/1915M ketika berhasil mengusir serangan sekutu di Darnadil. Pada Tahun
1388H/1919M dia mendirikan partai nasionalis Turki yang mengganti kedudukan
Organisasi Persatuan dan pembangunan.
Diantara kerja besarnya yang terkenal adalah kemenangannya di
Yunani dan mengusir sekutu dari Anatolia pada tahun 1340H/1921M. dia memiliki
hubungan yang kuat dengan barat. Dia mengikat perjanjian Lauzan dengan mereka
pada tahun 1342H/1923M yang diantara isinya adalah Turki harus menarik
kekuasaannya dari seluruh Asia kecil, Konstantinopel dan Turkistan.
Pada tahun 1342/1923 M khilafah Islamiyah dihapus, lalu Turki
berganti menjadi Republik sekuler. Musthafa Kamal menjadi presiden dengan model
kepemimpinan diktator. Pemilihannya sebagai presiden telah dilakukan beberapa
kali. Namun ini tidak menyelematkan rakyat hingga kematiannya pada tahun
1357H/1938M. sejak kekuasaan dipegang oleh Musthafa Kamal, Turki telah jauh
secara total dari Islam. Dia menghapus Khilafah Islamiyah terakhir di Turki,
dan memutuskan semua hubungan dengan Islam di negara-negara Islam. Dia
mengganti undang-undang Usmani dengan undang-undang modern (Swiss), lalu
mendorong Turki ke arah sekularisme (paham yang memisahkan agama dari dunia)[15].
E.
Kemunduran Dan Kehancuran Turki Usmani
Setelah
Sultan Sulaiman al-Qanuni wafat (1566 M), kerajaan Turki Usmani mulai memasuki
fase kemundurannya. Akan tetapi, sebagai sebuah kerajaan yang sangat besar dan
kuat, kemunduran tidak langsung terlihat. Sultan Sulaiman al-Qanuni diganti
oleh Salim II (1566-1573 M). Di masa pemerintahannya terjadi perempuran antara
armada laut Kerajaan Usmani dengan armada laut Kristen yang terdiri dari angkatan
laut Spanyol, angkatan laut Bundukia, angkatan laut Sri Paus, dan sebagian
kapal para pendeta Malta yang dipimpin Don Juan dari Spanyol. Pertempuran itu
terjadi di Selat Liponto (Yunani). Dalam pertempuran ini Turki Usmani mengalami
kekalahan yang mengakibatkan Tunisia dapat direbut oleh musuh. Baru pada masa
Sultan berikutnya, Sultan Murad III, pada tahun 1575 M Tunisia dapat direbut
kembali.
Walaupun Sultan Murad III (1574-1595 M)
berkepribadian jelek dan suka memperturutkan hawa nafsunya, Kerajaan Usmani pada
masanya berhasil menyerbu Kaukasus dan menguasai Tiflis di Laut Hitam (1577 M),
merampas kembali Tabriz, ibu kota Safawi, menundukkan Georgia, mencampuri
utusan dalam negeri Polandia, dan mengalahkan gubernur Bosnia pada tahun 1593 M[16].
Namun kehidupan moral Sultan yang jelek menyebabkan timbulnya kekacauan dalam
negeri. Kekacauan ini makin menjadi-jadi dengan tampilnya Sultan Muhammad III
(1595-1603 M), pengganti Murad III, yang membunuh semua saudara laki-lakinya
berjumlah 19 orang dan menenggelamkan janda-janda ayahnya sejumlah 10 orang
demi kepentingan pribadi. Dalam situasi yang kurang baik itu, Austria berhasil
memukul Kerajaan Usmani. Meskipun Sultan Ahmad I (1603-1617 M), pengganti
Muhammad III, sempat bangkit untuk memperbaiki situasi dalam negeri, tetapi
kejayaan Kerajaan Usmani di mata bangsa-bangsa Eropa sudah mulai memudar.
Sesudah Sultan Ahmad I (16031617 M ), situasi semakin memburuk dengan naiknya
Mustafa I (masa pemerintahannya yang pertama (1617-1618 M) dan kedua,
(1622-1623 M). Karena gejolak politik dalam negeri tidak bisa diatasinya, Syaikh
al-Islam mengeluarkan fatwa agar ia turun dan tahta dan diganti oleh Usman
II (1618-1622 M). Namun yang tersebut terakhir ini juga tidak mampu memperbaiki
keadaan. Dalam situasi demikian bangsa Persia bangkit mengadakan perlawanan
merebut wilayahnya kembali. Kerajaan Usmani sendiri tidak mampu berbuat banyak
dan terpaksa melepaskan wilayah Persia tersebut. Langkah-langkah perbaikan
kerajaan mulai diusahakan oleh Sultan Murad IV (1623-1640 M). Pertama-tama ia
mencoba menyusun dan menertibkan pemerintahan. Pasukan Jenissari yang pernah
menumbangkan Usman II dapat dikuasainya. Akan tetapi, masa pemerintahannya
berakhir sebelum ia berhasil menjernihkan situasi negara secara keseluruhan.
Situasi politik yang sudah mulai membaik itu
kembali merosot pada masa pemerintahan Ibrahim (1640-1648 M), karena ia termasuk
orang yang lemah. Pada masanya ini orang-orang Venetia melakukan peperangan laut
melawan dan berhasil mengusir orang-orang Turki Usmani dan Cyprus dan Creta
tahun 1645 M. Kekalahan itu membawa Muhammad Koprulu (berasal dari Kopru dekat
Amasia di Asia Kecil) ke kedudukan sebagai wazir atau shadr al-a' zham (perdana
menteri) yang diberi kekuasaan absolut[17].
Ia berhasil mengembalikan peraturan dan mengkonsolidasikan stabilitas keuangan
negara. Setelah Koprulu meninggal (1661 M), jabatannya dipegang oleh anaknya,
Ibrahim. Ibrahim menyangka bahwa kekuatan militernya sudah pulih sama sekali. Karena
itu, ia menyerbu Hongaria danmengancam Vienna. Namun, perhitungan Ibrahim
meleset, ia kalah dalam pertempuran itu secara berturut-turut.
Pada masa-masa selanjutnya wilayah Turki Usmani
yang luas itu sedikit demi sedikit terlepas dan kekuasaannya, direbut oleh
negara-negara Eropa yang baru mulai bangun. Pada tahun 1699 M terjadi
"Perjanjian Karlowith" yang memaksa Sultan untuk menyerahkan seluruh
Hongaria, sebagian besar Slovenia dan Croasia kepada Hapsburg; dan Hemenietz,
Padolia, Ukraina, Morea, dan sebagian Dalmatia kepada orang-orang Venetia. Pada
tahun 1770 M, tentara Rusia mengalahkan armada kerajaan Usmani di sepanjang
pantai Asia Kecil. Akan tetapi, tentara Rusia ini dapat dikalahkankembali oleh
Sultan Mustafa III (1757-1774 M) yang segera dapat mengkonsolidasi kekuatannya.
Sultan Mustafa III diganti oleh saudaranya,
Sultan Abd Hamid (1774-1789 M), seorang yang lemah. Tidak lama setelah naik
tahta, di Kutchuk Kinarja ia mengadakan perjanjian yang dinamakan
"Perjanjian Kinarja" dengan Catherine II dari Rusia. Isi perjanjian
itu antara lain (1) Kerajaan Usmani harus menyerahkan benteng-benteng yang
berada di Laut Hitam kepada Rusia dan memberi izin kepada armada Rusia untuk
melintasi selat yang menghubungkan Laut Hitam dengan Laut Putih, dan (2) Kerajaan
Usmani mengakui kemerdekaan Kimian (Crimea).
Demikianlah proses kemunduran yang terjadi di Kerajaan Usmani selama dua
abad lebih setelah ditinggal Sultan Sulaiman al-Qanuni. Tidak ada tanda-tanda
membaik sampai paroh pertam a abad ke-19 M. Oleh karena itu satu persatu
negeri-negeri di Eropa yang pernah dikuasai kerajaan ini memerdekakan diri.
Bukan hanya negeri-negeri di Eropa yang memang sedang mengalami kemajuan yang
memberontak terhadap kekuasaan Kerajaan Usmani, tetapi juga beberapa daerah di
Timur Tengah mencoba bangkit memberontak. Di Mesir kelemahan-kelemanan Kerajaan
Usmani membuat Mamalik bangkit kembali. Di bawah kepemimpinan Ali Bey, pada
tahun 1770 M, Mamalik kembali berkuasa di Mesir, sampai datangnya Napoleon
Bonaparte dan Perancis tahun 1798M.19 Di Libanon dan Syria, Fakhr al-Din,
seorang pemimpin Druze berhasil menguasai Palestina, dan pada tahun 1610 M
merampas Ba'albak dan mengancam Damaskus. Fakhr al-Din baru menyerah tahun 1635
M. Di Persia, Kerajaan Safawi ketika masih Jaya beberapa kali mengadakan
perlawanan terhadap Kerajaan Usmani dan beberapa kali pula ia keluar sebagai
pemenang. Sementara itu, di Arabia bangkit kekuatan baru, yaitu aliansi antara
pemimpin agama Muhammad ibn Abd al-Wahhab yang dikenal dengan gerakan
Wahhabiyah dengan penguasa lokal Ibn Sa'ud. Mereka berhasil menguasai beberapa
daerah di jazirah Arab dan sekitarnya di awal paroh kedua abad ke-18 M. Dengan
demikian, pemberontakan-pemberontakan yang terjadi di Kerajaan Usmani ketika ia
sedang mengalami kemunduran, bukan saja terjadi di daerah-daerah yang tidak
beragama Islam, tetapi juga di daerah-daerah yang berpenduduk muslim.
Gerakan-gerakan seperti itu terus berlanjut dan bahkan menjadi lebih keras
pada masa-masa sesudahnya, yaitu pada abad ke-19 dan ke-20 M. Ditambah dengan
gerakan pembaharuan politik di pusat pemerintah Kerajaan Usmani berakhir dengan
berdirinya Republik Turki pada tahun 1924 M.
Banyak
faktor yang menyebabkan Kerajaan Usmani itu mengalami kemunduran, di antaranya
adalah:
1.
Wilayah
Kekuasaan yang Sangat Luas
Administrasi pemerintahan bagi suatu negara
yang amat luas wilayahnya sangat rumit dan kompleks, sementara administrasi
pemerintahan Kerajaan Usmani tidak beres. Di pihak lain, para penguasa sangat
berambisi menguasai wilayah yang sangat luas, sehingga mereka terlibat perang
terus menerus dengan berbagai bangsa. Hal ini tentu menyedot banyak potensi
yang seharusnya dapat digunakan untuk membangun negara[18].
2.
Heterogenitas
Penduduk
Sebagai kerajaan besar, Turki Usmani menguasai
wilayah yang amat luas, mencakup Asia Kecil, Armenia, Irak, Shia, Hejaz, dan
Yaman di Asia; Mesir, Libia, Tunis, dan Aljazair di Afrika; dan Bulgaria,
Yunani, Yugoslavia, Albania, Hongaria, dan Rumania di Eropa[19].
Wilayah yang luas itu didiami oleh penduduk yang beragam, baik dan segi agama,
ras, etnis, maupun adat istiadat. Untuk mengatur penduduk yang beragam dan
tersebar di wilayah yang luas itu, diperlukan suatu organisasi pemerintahan
yang teratur. Tanpa didukung oleh administrasi yang baik, Kerajaan Usmani hanya
akan menanggung beban yang berat akibat heterogenitas tersebut. Perbedaan
bangsa dan agama acap kali melatar belakangi terjadinya pemberontakan dan
peperangan.
3.
Kelemahan
Para Penguasa
Sepeninggal Sulaiman al-Qanuni, Kerajaan Usmani
diperintah oleh sultan-sultan yang lemah, baik dalam kepribadian terutama,
dalam kepemimpinannya. Akibatnya pemerintahan menjadi kacau. Kekacauan itu
tidak pemah dapat diatasi secara sempurna, bahkan semakin lama menjadi semakin
parah.
4.
Budaya
Pungli merupakan perbuatan yang sudah umum
terjadi dalam Kerajaan Usmani. Setiap jabatan yang hendak diraih oleh seseorang
hams "dibayar" dengan sogokan kepada orang yang berhak memberikan
jabatan tersebut. Berjangkitnya budaya pungli ini mengakibatkan dekadensi moral
kian merajalela yang membuat pejabat semakin rapuh.
5.
Pemberontakan
tentara Jenissari
Kemajuan ekspansi Kerajaan Usmani banyak
ditentukan oleh kuatnya tentara Jenissari. Dengan demikian dapat dibayangkan
bagaimana kalau tentara ini memberontak. Pemberontakan tentara Jenissari
terjadi sebanyak empat kali, yaitu pada tahun 1525 M, 1632 M, 1727 M, dan 1826
M.
6.
Merosotnya
Ekonomi
Akibat perang yang tak pernah berhenti
perekonomian negara merosot. Pendapatan berkurang sementara belanja negara
sangat besar, termasuk untuk biaya perang.
7.
Terjadinya
Stagnasi dalam lapangan Ilmu dan Teknologi Kerajaan Usmani kurang berhasil
dalam pengembangan ilmu dan teknologi, karena hanya mengutamakan pengembangan
kekuatan militer. Kemajuan militer yang tidak diimbangi oleh kemajuan ilmu dan
teknologi menyebabkan kerajaan tidak sanggup menghadapi persenjataan musuh dari
Eropa yang lebih maju. Tidak terjadinya perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi dalam Kerajaan Usmani, ada kaitan dengan perkembangan metode berfipikir
tradisional di kalangan umat Islam. Hal itu juga sejalan dengan menurunnya
semangat berfikiran bebas akibat tidak berkembangnya pemikiran filsafat sejak
masa al-Ghazali.
Demikianlah
proses kemunduran kerajaan besar Usman Pada masa selanjutnya, di periode modern,
kelemahan kerajaan ini menyebabkan kekuatan-kekuatan Eropa tanpa segan-segan
menjajah dan menduduki daerah-daerah muslim yang dulunya berada di bawah
kekuasaan Kerajaan Usmani, terutama di Timur Tengah dan Afrika Utara[20].
F.
Kesimpulan
Kerajaan
Turki Usmani merupakan salah satu kerajaan besar yang paling lama eksistensinya
dibanding kerajaan Mughal di India, dan Safawi di Persia, kerajaan ini berkuasa
kurang lebih 625 tahun dengan pemimpinnya yang tidak kurang dari 38 pemimpin. Kerajaan
ini telah memperluas wilayah ekspansinya ke wilayah Eropa, Timur tengah, Mesir
dan Afrika Utara, serta menanklukan kerajaan konstantinopel.
Pada perkembangannya kerajaan Turki Usmani ini
menghadapi berbagai problematika, diantaranya adanya gerakan-gerakan
pembaharuan di dalam kerajaan Turki Usmani. Selanjutnya sejak kekuasaan
dipegang oleh Musthafa Kamal, sistem Khilafah Islamiyah berakhir di Turki dan mengganti
undang-undang Usmani dengan undang-undang modern (Swiss) yang mendorong Turki ke arah sekularisme (paham
yang memisahkan agama dari dunia).
DAFTAR PUSTAKA
Al-‘Usairy, Ahmad (2003). Sejarah Islam, Jakarta:Akbar Media
Eka Sarana
Hitti, Philip K. (1970). History
of the Arabs, London:Macmillan Press
Ibrahim, Hassan (1989). Sejarah
dan Kebudayaan Islam, Yogyakarta:Kota Kembang
Lapidus, M. Ira (1999). Sejarah Sosial Umat Islam, Jakarta:PT. Raja Grafindo Persada
Mughni, Syafiq A. (1997). Sejarah Kebudayaan Islam, Jakarta:Logos
Nasution, Harun (1985). Islam ditinjau dari berbagai aspeknya,
Jakarta:UI Press
Nasution, Harun (1992). Pembaharuan dalam Islam: sejarah
Pemikiran dan Gerakan, Jakarta:Bulan Bintang
Sodikin, Abuy (2003). Aliran Modern Islam di Mesir dan Turki,
Bandung:Tarbiyah Press
Sunanto, Musyrifah (2007). Sejarah
Islam Klasik: Perkembangan Ilmu Pengetahuan Islam, Jakarta:Kencana
Syalabi, Ahmad (1988). Sejarah dan Kebudayaan Islam: Imperium
Turki Usmani, Jakarta:Kalam Mulia
Yatim, Badri (1995). Sejarah Peradaban Islam, Jakarta:PT. Raja Grafindo Persada
[1]
Hassan Ibrahim Hassan, Sejarah dan Kebudayaan Islam, (Yogyakarta:Kota
Kembang, 1989), h.324-325
[2]
Ahmad Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam: Imperium Turki Usmani, (Jakarta:Kalam
Mulia, 1988), h.2
[3] Harun
Nasution, Islam ditinjau dari berbagai aspeknya,Jilid I, (Cet.1;Jakarta:UI
Press, 1985), h.84
[4] Syafiq A.
Mughni, Sejarah Kebudayaan Islam, (cet.1;Jakarta:Logos,
1997), h.53-67
[5] Ahmad
Al-‘Usairy, Sejarah Islam, Jakarta:Akbar Media Eka Sarana, 203,
hal.359-360
[6] Philip K.
Hitti, History of the Arabs, London:Macmillan Press, 1970, hal.918-919
[7] Badri Yatim, Sejarah
Peradaban Islam, (cet.3; Jakarta:PT. Raja Grafindo Persada, 1995), h.135
[8] Philip K.
Hitti, History of the Arabs, ( London:Macmillan Press, 1970), h.
713-714
[9] Ibid,. hal.715
[10] Musyrifah
Sunanto, Sejarah Islam Klasik: Perkembangan Ilmu Pengetahuan Islam, (cet.3;
Jakarta:Kencana, 2007), h.242-246
[11] Ira M.
Lapidus, Sejarah Sosial Umat Islam, (cet.1; Jakarta:PT. Raja Grafindo
Persada, 1999), h.503
[12] Badri Yatim, op.
cit,. hal.136-138
[13] Abuy Sodikin, Aliran
Modern Islam di Mesir dan Turki, (cet.10; Bandung:Tarbiyah Press, 2003), h.77-80
[14] Harun
Nasution, Pembaharuan dalam Islam: sejarah Pemikiran dan Gerakan, (cet.9;
Jakarta:Bulan Bintang, 1992), h.105
[15] Ahmad
Al-‘Usairy, op. cit., h. 372-373
[16] Hassan Ibrahim
Hassan, op. cit,. h.339
[17] Ibid, h.
339
[18] Ahmad Syalabi,
op. cit., h.49
[19]Harun Nasution,
op.cit., h. 84
[20] Badri Yatim, op.
cit., h.167-169
Tidak ada komentar:
Posting Komentar