Sabtu, 22 Oktober 2011

KERAJAAN TURKI UTSMANI



A.    Pendahuluan
Setelah khilafah Abbasiyah di Baghdad runtuh akibat serang­an tentara Mongol, kekuatan politik Islam mengalami kemundur­an secara drastis. Wilayah kekuasaannya tercabik-cabik dalam beberapa kerajaan kecil yang satu sama lain bahkan saling meme­rangi. Beberapa peninggalan budaya dan peradaban Islam banyak yang hancur akibat serangan bangsa Mongol itu. Namun, kema­langan tidak berhenti sampai di situ. Timur Lenk telah menghancurkan pusat-pusat kekuasaan Islam yang lain.
Keadaan politik umat Islam secara keseluruhan baru meng­alami kemajuan kembali setelah muncul dan berkembangnya tiga kerajaan besar: Usmani di Turki, Mughal di India, dan Safawi di Persia. Kerajaan Usmani, di samping yang pertama berdiri, juga yang terbesar dan paling lama bertahan dibanding dua kerajaan lainnya.
Dari sekian lama kekuasaan Turki Usman sekitar 625 tahun berkuasa tidak kurang dari tiga puluh delapan sultan yang menjadi pemimpin pada kerajaan tersebut. Sejak kekuasaan dipegang oleh Musthafa Kamal, Turki telah jauh secara total dari Islam. Dia menghapus Khilafah Islamiyah terakhir di Turki, dan memutuskan semua hubungan dengan Islam di negara-negara Islam. Dia mengganti undang-undang Usmani dengan undang-undang modern (Swiss), lalu mendorong Turki ke arah sekularisme (paham yang memisahkan agama dari dunia).
Pada makalah ini akan dibahas mengenai Kerajaan Usmani yang meliputi Asal-usul, perkembangan, kemajuan, Pembaharuan, kemunduran dan kehancurannya.
B.     Asal-usul Dan Perkembangan Turki Usmani
Pendiri kerajaan ini adalah bangsa Turki dari kabilah Oghuz yang mendiami daerah Mongol dan daerah utara negeri Cina. Dalam jangka waktu kira-kira tiga abad, mereka pindah ke Turkis­tan kemudian Persia dan Irak. Mereka masuk Islam sekitar abad kesembilan atau kesepuluh, ketika mereka menetap di Asia Tengah. Di bawah tekanan serangan-serangan Mongol pada abad ke­13 M, mereka melarikan diri ke daerah barat dan mencari tempat pengungsian di tengah-tengah saudara-saudara mereka, orang-­orang Turki Seljuk, di dataran tinggi Asia kecil[1]. Di sana, di bawah pimpinan Ertoghrul, mereka mengabdikan diri kepada Sultan Alauddin II, Sultan Seljuk yang kebetulan sedang berpe­rang melawan Bizantium. Berkat bantuan mereka, Sultan Alauddin mendapat kemenangan. Atas jasa baik itu, Alauddin menghadiah­kan sebidang tanah di Asia Kecil yang berbatasan dengan Bizan­tium. Sejak itu mereka terus membina wilayah barunya dan memilih kota Syukud sebagai ibu kota[2].
Ertoghrul meninggal dunia tahun 1289 M. Kepemimpinan dilanjutkan oleh puteranya, Usman. Putera Ertoghrul inilah yang dianggap sebagai pendiri kerajaan Usmani. Usman memerintah antara tahun 1290 M dan 1326 M. Sebagaimana ayahnya, ia banyak berjasa kepada Sultan Alauddin II dengan keberhasilan­nya menduduki benteng-benteng Bizantium yang berdekatan dengan kota Broessa. Pada tahun 1300 M, bangsa Mongol menye­rang kerajaan Seljuk dan Sultan Alauddin terbunuh. Kerajaan Seljuk Rum ini kemudian terpecah-pecah dalam beberapa keraja­an kecil. Usman pun menyatakan kemerdekaan dan berkuasa penuh atas daerah yang didudukinya. Sejak itulah kerajaan Usmani dinyatakan berdiri. Penguasa pertamanya adalah Usman yang sering disebut juga Usman I.
Setelah Usman I mengumumkan dirinya sebagai Padisyah Al-Usman (raja besar keluarga Usman) tahun 699 H (1300 M) setapak demi setapak wilayah kerajaan dapat diperluasnya. Ia menyerang daerah perbatasan Bizantium dan menaklukkan kota Broessa tahun 1317 M, kemudian pada tahun 1326 M dijadikan sebagai ibu kota kerajaan. Pada masa pemerintahan Orkhan (726 II/1326 M-761 H/1359 M) Kerajaan Turki Usmani ini dapat menaklukkan Azmir (Smirna) tahun 1327 M, Thawasyanli (1330 M), Uskandar (1338 M), Ankara (1354 M), dan Gallipoli (1356 M). Daerah ini adalah bagian benua Eropa yang pertama kali diduduki kerajaan Usmani.
Ketika Murad I, pengganti Orkhan, berkuasa (761 H/1359 M­ - 789 H/1389 M), selain memantapkan keamanan dalam negeri, ia melakukan perluasan daerah ke Benua Eropa. Ia dapat menakluk­kan Adrianopel yang kemudian dijadikannya sebagai ibu kota kerajaan yang baru, Macedonia, Sopia, Salonia, dan seluruh wilayah bagian utara Yunani. Merasa cemas terhadap kemajuan ekspansi kerajaan ini ke Eropa, Paus mengobarkan semangat perang. Sejumlah besar pasukan sekutu Eropa disiapkan untuk memukul mundur Turki Usmani. Pasukan ini dipimpin oleh Sijisman, raja Hongaria. Namun Sultan Bayazid I (1389-1403 M), pengganti Murad I, dapat menghancurkan pasukan sekutu Kristen Eropa tersebut. Peristiwa ini merupakan catatan sejarah yang amat gemilang bagi umat Islam.
Ekspansi kerajaan Usmani sempat terhenti beberapa lama. Ketika ekspansi diarahkan ke Konstantinopel, tentara Mongol yang dipimpin Timur Lenk melakukan serangan ke Asia Kecil. Pertempuran hebat terjadi di Ankara tahun 1402 M. Tentara Turki Usmani mengalami kekalahan. Bayazid bersama puteranya Musa tertawan dan wafat dalam tawanan tahun 1403 M.
Kekalahan Bayazid di Ankara itu membawa akibat buruk bagi Turki Usmani. Penguasa-penguasa Seljuk di Asia Kecil melepaskan diri dari genggaman Turki Usmani. Wilayah-wilayah Serbia dan Bulgaria juga memproklamasikan kemerdekaan. Dalam pada itu putera-putera Bayazid saling berebut kekuasaan. Suasana buruk ini baru berakhir setelah Sultan Muhammad I (1403-1421 M) dapat mengatasinya. Sultan Muhammad berusaha keras menyatukan negaranya dan mengembalikan kekuatan dan kekuasaan seperti sedia kala.
Setelah Timur Lenk meninggal dunia tahun 1405 M, kesultanan Mongol dipecah dan dibagi-bagi kepada putera-puteranya yang satu sama lain saling berselisih. Kondisi ini dimanfaatkan oleh penguasa Turki Usmani untuk melepaskan diri dan kekuasa­an Mongol. Namun, pada saat seperti itu juga terjadi perselisihan antara putera-putera Bayazid (Muhammad, Isa, dan Sulaiman). Setelah sepuluh tahun perebutan kekuasaan terjadi, akhirnya Muhammad berhasil mengalahkan saudara-saudaranya. Usaha Muhammad yang pertama kali ialah mengadakan perbaikan­-perbaikan dan meletakkan dasar-dasar keamanan dalam negeri. Usahanya ini diteruskan oleh Murad II (1421-1451 M), sehingga Turki Usmani mencapai puncak kemajuannya pada masa Muhammad II atau biasa disebut Muhammad al-Fatih (1451-1484 M).
Sultan Muhammad al-Fatih dapat mengalahkan Bizantium dan menaklukkan Konstantinopel tahun 1453 M. Dengan terbu­kanya Konstantinopel sebagai benteng pertahanan terkuat Kera­jaan Bizantium, lebih mudahlah arus ekspansi Turki Usmani ke Benua Eropa. Akan tetapi ketika Sultan Salim I (1512-1520 M) naik tahta, ia mengalihkan perhatian ke arah timur dengan menak­lukkan Persia, Syria dan dinasti Mamalik di Mesir. Usaha Sultan Salim I ini dikembangkan oleh Sultan Sulaiman al-Qanuni (15-1566 M.). Ia tidak mengarahkan ekspansinya ke salah satu timur atau barat, tetapi seluruh wilayah yang berada di sekitar Turki Usmani merupakan obyek yang menggoda hatinya. Sulaiman berhasil menundukkan Irak, Beigrado, Pulau Rodhes, Budapest, dan Yaman. Dengan demikian, luas wilayah usmani pada masa Sultan Sulaiman al-Qanuni mencakup Asia Kecil, Armenia, Irak, Siria, Hejaz, dan Yaman di Asia; Mesir, Libia, Tunis, dan Aljazair di Afrika; Bulgaria, Yunani, Yugoslavia, Albania, Hongaria, dan Rumania di Eropa[3].
Setelah Sultan Sulaiman meninggal dunia, terjadilah perebutan kekuasaan antara putera-puteranya, yang menyebabkan kerajaan Turki Usmani mundur. Akan tetapi, meskipun terus tengalami kemunduran, kerajaan ini untuk masa beberapa abad masih dipandang sebagai negara yang kuat, terutama dalam bidang militer. Kerajaan ini memang masih bertahan lima abad lagi setelah itu.
Syafiq A. Mughni menjelaskan dari sekian lama kekuasaan Turki Usman sekitar 625 tahun berkuasa tidak kurang dari tiga puluh delapan sultan, yang sejarah kekuasaan mereka bisa dibagi menjadi lima periode sebagai berikut.
1. Periode Pertama (1299-1402)
Periode ini dimulai dari berdirinya kerajaan, ekspansi pertama sampai kehancuran sementara oleh serangan Timur. Sultan-sultannya adalah sebagai berikut :
a.       Usman I                                                     1299-1326
b.      Orkhan (putera Usman I)                          1326-1359
c.       Murad I (putera Orkhan)                           1359-1389
d.      Bayazid I Yildirim (putera Murad I)         1389-1402
2. Periode Kedua (1402-1566)
Periode ini ditandai dengan restorasi kerajaan dan cepatnya pertumbuhan sampai ekspansinya yang terbesar. Sultan-sultannya adalah:
5. Muhammad I (putera Bayazid I)              1403-1421
6. Murad II (putera Muhammad I)               1421-1451
7. Muhammad II Fatih (putera Murad II)    1451-1481
8. Bayazid II (putera Muhammad II)           1481-1512
9. Salim I(putera Bayazid II)                        1512-1520
10. Sulaiman I Qanuni (putera Salim I)        1520-1566
3. Periode Ketiga (1566-1699)
Periode ini ditandai dengan kemampuan Usmani untuk mempertahankan wilayahnya, sampai lepasnya Hungaria. Namun, kemuduran segera terjadi.
Dalam masa kemunduran Turki Usmani setelah Sulaiman, terdapat beberapa sultan yang berkuasa berturut-turut sebagai berikut :
11. Salim II (putera Sulaiman I)
1566-1573
12. Murad III ( putera Salim II)
1573-1596
13. Muhammad III (putera Murad III)
1596-1603
14. Ahmad I (putera Muhammad III)
1603-1617
15. Mustafa I (putera Muhammad III)
1617-1618
16. Usman II (putera Ahmad I)
1618-1622
17. Mustafa I (yang kedua kalinya)
1622-1623
18. Murad IV (putera Ahmad I)
1623-1640
19. Ibrahim I (putera Ahmad I)
1640-1648
20. Muhammad IV (putera Ibrahim I)
1648-1687
21. Sulaiman III (putera Ibrahim I)
1687-1691
22. Ahmad II (putera Ibrahim I)
1691-1695
23. Mustafa II (putera Muhammad IV)
1695-1703
4. Periode Keempat (1699-1839)
Periode ini ditandai dengan secara berangsur-angsur surutnya kekuatan kerajaan dan pecahnya wilayah di tangan Para penguasa wilayah. Sultan-sultannya adalah sebagai berikut :
24. Ahmad III (putera Muhammad IV)
1703-1730
25. Mahmud I (putera Mustafa II)
1730-1754
26. Usman HI (putera Mustafa II)
1754-1757
27. Mustafa III (putera Ahmad III)
1757-1774
28. Abdul Hamid I (putera Ahmad III)
1774-1788
29. Salim III ( putera Mustafa III)
1789-1807
30. Mustafa IV (putera Abd al-Hamid I)
1807-1808
31. Mahmud H ( putera Abd al-Hamid I)
1808-1839
5. Periode Kelima (1839-1922)
Periode ini ditandai dengan kebangkitan kultural dan administratif dari negara di bawah pengaruh ide-ide Barat. Sultan-­sultannya adalah sebagai berikut:
32. Abdul Majid I (putera Mahmud II)
1839-18
61
33. Abdul Aziz (putera Mahmud II)
1861-18
76
34. Murad V (putera Abd al-Majid I)
1876-18
76
35. Abdul Harnid II (putera Abd al-Majid I)
1876-19
09
36. Muhammad V (putera Abd al-Majid I)
1909-18
18
37. Muhammad VI (putera Abd al-Majid I)
1918-19
22
38.  Abdul Majid II (1922-1924), hanya bergelar khalifah, tanpa sul­tan, yang akhirnya di turunkan pula dari jabatan khalifah. Turki Usmani dihapus oleh Kemal Attaturk, dan Turki menjadi negara nasional Republik Turki[4].
Berikut ini daftar keturunan para sultan keluarga usman[5]

Salim II (974-982H)
Murad III (982-1003H)
Muhammad III (1003-1012H)
Ahmad II (1102-1106H)
Muhammad IV 91058-1099H)
Sulaiman III (1099-1102H)
Ahmad III (1115-1143H)
Musthafa II (1106-1115H)
Utsman III (1168-1171H)
Mahmud I (1143-1168H)
Ahmad I (1021-1026H)
Musthafa I (1026-1027H)
Murad IV (1032-1049H)
Ibrahim I (1049-1058H)
Utsman II (1027-1031H)
Sulaiman
Urthogal
Utsman I (Pendiri) (699-726H)
Urkhan (726-761H)
Murad I (761-791H)
Beyzid I (791-805H)
Muhammad I (816-855H)
Murad II (824-855H)
Muhammad II (Al-Fatih) (855-886H)
Beyzid II (886-918H)
Salim I (918-926H)
Sulaiman al-Qanuni (926-974H)
Para Khalifah Pada Masa Kelemahan
 


               
       
            
                                                                                                                                                                                      












Ahmad III
Abdul Hamid I (1187-1203H)
Musthafa III (1171-1187H)
Musthafa IV (1222-1223H)
Mahmud II (1223-1255H)
Abdul Aziz (1277-1293H)
Abdul Majid (1255-1277H)
Muhammad VI (wahiduddin)
 (1337-1340H)
Muhammad V (Rasyad)
 (1328-1337H)
Abdul Hamid II

(1293-1328H)
Murad V

(1293-1293H)
Abdul Majid II (1340-1342H)
Para Khalifah pada Masa Kemerosotan dan Kemunduran
 












Peta Wilayah Kekuasaan Kerajaan Utsmani[6]
C.    Kemajuan Turki Usmani
Kemajuan dan perkembangan ekspansi kerajaan Usmani yang demikian luas dan berlangsung dengan cepat itu diikuti pula oleh kemajuan-kemajuan dalam bidang-bidang kehidupan yang lain. Yang terpenting di antaranya adalah sebagai berikut.
1.      Bidang Kemiliteran dan Pemerintahan
Para pemimpin kerajaan Usmani pada masa-masa pertama, adalah orang-orang yang kuat, sehingga kerajaan dapat melakukan ekspansi dengan cepat dan luas. Meskipun demikian, kema­juan Kerajaan Usmani sehingga mencapai masa keemasannya itu, bukan semata-mata karena keunggulan politik para pemimpinnya. Masih banyak faktor lain yang mendukung keberhasilan ekspansi itu. Yang terpenting diantaranya adalah keberanian, keterampilan, ketangguhan dan kekuatan militemya yang sang­gup bertempur kapan dan di mana saja.
Untuk pertama kali, kekuatan militer kerajaan ini mulai diorganisasi dengan baik dan teratur ketika teljadi kontak senjata dengan Eropa. Ketika itu, pasukan tempur yang besar sudah terorganisasi. Pengorganisasian yang baik, taktik dan strategi tempur militer Usmani berlangsung tanpa halangan berarti. Namun, tidak lama setelah kemenangan tercapai, kekuatan militer yang besar ini dilanda kekisruhan. Kesadaran prajuritnya menurun. Mereka merasa dirinya sebagai pemimpin-pemimpin yang berhak menerima gaji. Akan tetapi keadaan tersebut segera dapat diatasai oleh Orkhan dengan jalan mengadakan perombakan besar-besar­an dalam tubuh militer.
Pembaruan dalam tubuh organisasi militer oleh Orkhan, tidak hanya dalam bentuk mutasi personil-personil pimpinan, tetapi juga diadakan perombakan dalam keanggotaan. Bangsa-bangsa non-Turki dimasukkan sebagai anggota, bahkan anak-anak Kris­ten yang masih kecil diasramakan dan dibimbing dalam suasana Islam untuk dijadikan prajurit. Program ini ternyata berhasil dengan terbentuknya kelompok militer baru yang disebut pasukan Jenissari atau Inkisyariah. Pasukan inilah yang dapat mengubah negara Usmani menjadi mesin perang yang paling kuat, dan memberikan dorongan yang amat besar dalam penaklukkan negri-negeri non muslim.
Di samping Jenissari, ada lagi prajurit dari tentara kaum feodal yang dikirim kepada pemerintah pusat. Pasukan ini disebut tentara atau kelompok militer Thaujiah. Angkatan laut pun dibenahi, karena ia mempunyai peranan yang besar dalam perja­lanan ekspansi Turki Usmani. Pada abad ke 16 angkatanlaut Turki Usmani mencapai puncak kejayaannya. Kekuatan militer Turki Usmani yang tangguh itu dengan cepat dapat menguasai wilayah yang amat luas, baik di Asia, Afrika, maupun Eropa. Faktor utama yang mendorong kemajuan di lapangan kemiliteran ini ialah tabiat bangsa Turki itu sendiri yang bersifat militer, berdisiplin, dan patuh terhadap peraturan. Tabiat ini merupakan tabiat alami yang mereka warisi dari nenek moyangnya di Asia Tengah.
Keberhasilan ekspansi tersebut dibarengi pula dengan tercip­tanya jaringan pemerintahan yang teratur. Dalam mengelola wilayah yang luas sultan-sultan Turki Usmani senantiasa bertin­dak tegas. Dalam struktur pemerintahan, sultan sebagai penguasa tertinggi,2 dibantu oleh shadr al-a' zham (perdana menteri), yang membawahi pasya (gubernur). Gubernur mengepalai daerah ting­kat I. Di bawahnya terdapat beberapa orang al-zanaziq atau al­alawiyah (bupati)[7].
Untuk mengatur urusan pemerintahan negara, di masa Sultan Sulaiman I disusun sebuah kitab undang-undang (qanun). Kitab tersebut diberi nama Multaqa al-Abhur, yang menjadi pegangan hukum bagi kerajaan Turki Usmani sampai datangnya reformasi pada abad ke-19. Karena jasa Sultan Sulaiman I yang amat berharga ini, di ujung namanya ditambah gelar al-Qanuni.[8]
2. Bidang Ilmu Pengetahuan dan Budaya
Kebudayaan Turki Usmani merupakan perpaduan benna­am-macam kebudayaan, diantaranya adalah kebudayaan Persia, Bizantium, dan Arab. Dan kebudayaan Persia, mereka banyak mengambil ajaran-ajaran tentang etika dan tata krama dalam istana raja-raja. Organisasi pemerintahan dan kemiliteran banyak mereka serap dari Bizantium. Sedangkan ajaran-ajaran tentang prinsip-prinsip ekonomi, sosial dan kemasyarakatan, keilmuan dan huruf mereka terima dan bangsa Arab. Orang-orang Turki Usmani memang dikenal sebagai bangsa yang suka dan mudah berasimilasi dengan bangsa asing dan terbuka untuk menerima kebudayaan luar. Hal ini mungkin karena mereka masih miskin dengan kebudayaan. Bagaimanapun, sebelumnya mereka adalah orang nomad yang hidup di dataran Asia Tengah.
Sebagai bangsa yang berdarah minter, Turki Usmani lebih banyak memfokuskan kegiatan mereka dalam bidang kemiliter­an, sementara dalam bidang ilmu pengetahuan, mereka kelihatan tidak begitu menonjol. Karena itulah di dalam khazanah intelek­tual Islam kita tidak menemukan ilmuwan terkemuka dari Turki Usmani. Namun demikian, mereka banyak berkiprah dalam pe­ngembangan seni arsitektur Islam berupa bangunan-bangunan mesjid yang indah, seperti Masjid Al-Muhammadi atau Mesjid Jami' Sultan Muhammad Al-fatih, Mesjid Agung Sulaiman dan Mesjid Abi Ayyub al-Anshari. Mesjid-mesjid tersebut dihiasi pula dengan kaligrafi yang indah. Salah satu mesjid yang terkenal dengan keindahan kaligrafinya adalah mesjid yang asalnya gereja Aya Sopia. Hiasan kaligrafi itu, dijadikan penutup gambar-gam­bar Kristian yang ada sebelumnya.
Pada masa Sulaiman di kota-kota besar dan kota-kota lairmya banyak dibangun mesjid, sekolah, rumah sakit, gedung, makam, jembatan, saluran air, villa, dan pemandian umum. Disebutkan bahwa 235 buah dan bangunan itu dibangun di bawah koordinator Sinan, seorang arsitek asal Anatolia[9].
Dalam lapangan ilmu pengetahuan secara orisinil memang sedikit sekali munculnya ilmuwan besar diantaranya:
1.        Haji Kholifa, nama lengkapnya Mustafa ibn Abdullah wafat tahun 1068 H/1685M, seorang yang berpengetahuan luas, prajurit yang berani, dan pengarang yang cakap. Kitab karangannya banyak mengenai sejarah, ilmu bumi, sejarah hidup dan soal-soal lain. Diantaranya:
a.    kasyfu al-Dzunun, kamus yang memuat kira-kira 14.500 buah nama kitab dalam bahasa arab yang disusun menurut abjad.
b.    Taqwimu al-Tawarikh
c.    Tuhfatu al-Kibar fi Asfari al-Bihar, tentang armada daulah Usmaniyah
d.   Mizan al-Haq Fi Ikhtiyaeri al-Ahaq,  tentang tasawuf.
2.        Daulah Inthaqy, nama lengkapnya Daud ibn Umar al-Inthaqy al-Dharif wafat 1008H/1598M, dokter terkenal pada zamannya, seorang pengarang ilmu dalam bidangnya. Diantara karangannya:
a.    Tadzkirah Ulil Albab wa al-jumu’u lil -ujbi al-ujab, tentang ilmu kedokteran sebanyak tiga jilid
b.    An-Nuzhatu al-Muhbiyah Fi tasyhizil Azhan wa Ta’dili al-Amzijah, juga tentang ilmu kedokteran.
Atas pengaruh Jalaludin Rumi, seni bersyair berkembang di dunia Islam, khususnya di Turki pada masa Daulah Usmaniyah. Penyair-penyair ternama di Turki diantaranya terdapat Sultan Walid, putra Jalaludin Rumi, Yazzi Oghlu sangat ternama karena syairnya tentang sejarah hidup nabi Muhammad, syekh Zada telah mengarangkan “sejarah empat puluh menteri” yang dipersembahkan kepada Sultan Murad II dan penyair-penyair besar lainnya.
Dalam bidang arsitektur, daulah Usmaniyah mempunyai madzhab tersendiri yang disebut gaya/style Usmaniyah. Gaya ini muncul ketika Usmaniyah dapat mengalahkan kerajaan Byzantium. Pertemuan Arsitektur Byzantium dan Turki Usmaniyah itu telah melahirkan suatu gaya yang baru. Perwujudannya dalam bentuk qubah setengah lingkaran dengan pilar-pilar besar sebagaiman terlihat pada bentuk qubah masjid Istiqlal di Indonesia. Sejak itu bermunculan masjid baru dengan style Usmani, yang termegah adalah masjid Aya Sophia[10].

3. Bidang Keagamaan
Agama dalam tradisi masyarakat Turki mempunyai peranan besar dalam lapangan sosial dan politik. Masyarakat digolong-golongkan berdasarkan agama, dan kerajaan sendiri sangat terikat dengan syariat sehingga fatwa ulama menjadi hukum yang berla­ku. Karena itu, ulama mempunyai tempat tersendiri dan berperan besar dalam kerajaan dan masyarakat. Mufti, sebagai pejabat urusan agama tertinggi, berwenang memberi fatwa resmi terha­dap problema keagamaan yang dihadapi masyarakat.Tanpa legi­timasi Mufti, keputusan hukum kerajaan bisa tidak berjalan.
Dalam rentangan abad lima belas dan enam belas Usmani menjadikan thariqat sufi dibawah pengawasan negara. Negara mengambil alih kewenangan terhadap tekke-tekke sufi dengan menyediakan dana subsidi yang permanen terhadap kegiatan-kegiatan kebaktian. Kalangan thariqat Bektashi, utamanya berada dibawah pengawasan Usmani sebagai sekolah tentara bagi pasukan jenissari. Mereka hidup dan berkumpul bersama tentara dan memberikan kepada mereka perlindungan magis di medan peperangan. Hal ini memungkinkan thariqat ini tersebar luas dipenjuru Anatolia Timur dan dikalangan migran Turki di Macedonia dan Albania. Pada awal abad enam belas pimpinanThariqat ini yakni sultan Balim, diresmikan oleh Sultan Usmani. Kalangan thariqat Mevlevi juga berhubungan dekat dengan negara Usmani, mereka diberi hak untuk mempersiapkan sebuah pedang suci pada saat pelantikannya[11].
Di pihak lain, kajian-kajian ilmu keagamaan, seperti fikih, ilmu kalam, tafsir, dan hadis boleh dikatakan tidak mengalami perkembangan yang berarti. Para penguasa lebih cenderung untuk menegakkan satu paham (mazhab) keagamaan dan menekan mazhab lainnya. Sultan Abdul Al-Hamid II misalnya begitu fanatik terhadap aliran Asy'ariyah. Ia merasa perlu mempertahankan aliran-aliran tersebut dari kritikan aliran lain. Ia memerintahkan kepada Syekh Husein al-Jisri menulis kitab Al-Hushun Al-­Hamidiyah (Benteng pertahanan Abdul Hamid) untuk melestari­kan aliran yang dianutnya itu. Akibat kelesuan di bidang ilmu keagamaan dan fanatik yang berlebihan, maka ijtihad tidak ber­kembang. Ulama hanya suka menulis buku dalam bentuk syarah (penjelasan) dan hasyiyah (semacam catatan) terhadap karya-­karya masa klasik.
Bagaimanapun, kerajaan Turki Usmani banyak berjasa, ter­utama dalam perluasan wilayah kekuasaan Islam ke benua Eropa. Ekspansi kerajaan ini untuk pertama kalinya lebih banyak ditujukan ke Eropa Timur yang belum masuk dalam wilayah kekuasaan dan agama Islam. Akan tetapi, karena dalam bidang peradaban dan kebudayaan - kecuali dalam hal-hal yang bersifat fisik - perkembangannya jauh berada di bawah kemajuan politik, maka bukan saja negeri-negeri yang sudah ditaklukkan itu, akhimya melepaskan diri dari kekuasaan pusat, tetapi juga masyarakatnya tidak banyak yang memeluk agama Islam[12].
D.    Pembaharuan Islam di Turki
Sebelum Islam masuk ke Turki, bangsa Turki memeluk agama Majusi, Budha dan agama lainnya. Bangsa Turki termasuk bangsa campuran antara bangsa Mongol dan bangsa lainnya di Asia Tenggara. Ketika bangsa Arab mengembangkan panji Islam ke Persia, terjadilah kontak pertama antara orang Arab dengan orang Turki. Sejak itu masuklah ajaran Islam ke Turki dan akhirnya Islam berkembang dengan suburnya di daerah itu.
Pada tahun 1037 sultan Turki Saljuk dapat menguasai kekhalifahan Abbasiyah. Akan tetapi, kemudian tenggelam dilumpuhkan oleh bangsa mongol dibawah pimpinan Djengis Khan. Bangsa Turki yang dipimpin oleh Ertghril, selanjutnya menjelma menjadi Turki Usmani yang kekuasaannya memuncak antara tahun 1520-1566, dibawah pemerintahan sulaiman I. Walaupun demikian, akhirnya bangsa ini juga mengalami keruntuhan pada abad ke 19 M. bangsa Turki yang semula bersifat keras itu, akhirnya jatuh amblas menjadi masa bodoh dan kurang mengembangkan teknik perang. Tenaga militernya pun di akhir kejayaannya hampir lenyap.
Walau Turki mengalami kemunduran, namun kemudian di lain masa bisa bangkit kembali. Kebangkitannya, berkat ketekunan tokoh-tokohnya yang mengadakan modernisasi pada beberapa aspek kehidupan.
Gelombang kebangkitan yang dinamis, dimotori oleh golongan-golongan masyarakat yang ada di Turki. Secara singkat golongan-golongan yang muncul di Turki dengan ide pembaharuannya, antara lain:
1.      Tanzimat
Istilah Tanzimat berasal dari bahasa arab, dari kalimat “tanzim” yang berarti pengaturan. Secara terminology tanzimat dimaksudkan sebagai suatu usaha pembaharuan yang mengatur dan menyusun serta memperbaiki struktur organisasi pemerintah, sosial, ekonomi dan kebudayaan. Secara khusus untuk menyebut pergerakan pembaharuan khas yang muncul di Turki, terjadi antara tahun 1983-1971.
Tokoh-tokoh Tanzimat antara lain ialah Mahmed Sadik Rif’at Pasya, Mustafa Sami Pasya, Mustafa Rasyid Pasya, Ali Pasya dan Fu’ad Pasya[13].
2.      Usmani Muda
Golongan Intelegensia Kerajaan Usmani yang banyak menentang kekuasaan Absolut Sultan dikenal dengan nama Usmani Muda (Yeni Usmanlilar – Young Ottoman). Pemikiran-pemikiran yang dimajukan pemuka-pemuka Usmani mudalah yang mempengaruhi pembaharuan yang diadakan sesudah zaman Tanzimat. Zaman Tanzimat berakhir dengan wafatnya Ali Pasya di tahun 1871. Usmani Muda pada asalnya merupakan perkumpulan rahasia yang didirikan di tahun 1865 dengan tujuan untuk merobah pemerintahan absolut kerajaan Usmani menjadi pemerintahan konstitusional. Setelah rahasia terbuka pemuka-pemukanya lari ke Eropa ditahun 1867 dan disanalah gerakan mereka memperoleh nama Usmani muda. Sebahagian dari mereka kembali ke Istanbul setelah Ali Pasya tiada lagi.
Pemikir-pemikir Usmani muda diantaranya adalah Ziya Pasya (1825-1880), Namik Kemal (1840-1888), Ali Sefkati (1838-1878)[14].
3.      Turki Muda
Setelah Sultan Abdul Hamid membubarkan parlemen dan hancurnya gerakan Usmani muda, ia terus memerintah dengan kekuasaan yang lebih absolut. Dalam suasana demikianlah timbullah gerakan-gerakan oposisi terhadap pemerintahan absolut Sultan Abdul Hamid. Oposisi dikalangan Perguruan tinggi mengambil bentuk perkumpulan-perkumpulan rahasia. Dikalangan intelegensia pemimpin-pemimpinnya lari ke luar negeri dan dari sana melanjutkan oposisi mereka. Gerakan dikalangan militer menjelma dalam bentuk komite-komite rahasia. Oposisi yang berbagai kelompok inilah yang kemudian dikenal dengan nama Turki Muda.
            Ide perjuangan Turki Muda antara lain dimajukan oleh tiga pemimpin, Ahmed Riza (1859-1931), Mehmed Murad (1853-1912) dan pangeran Sabahuddin (1877-1948).
4.      Mustafa Kemal Attaturk.
Mustafa Kemal adalah seorang pemimpin Turki baru yang menyalamatkan kerajaan Usmani dari kehancuran total dan bangsa Turki dari penjajahan Eropa. Dia adalah pencipta Turki Modern dan atas jasanya ia mendapat gelar Attaturk (bapak Turki).
Dahulunya adalah seorang perwira dalam pasukan Usmaniyah. Lalu, dia bergabung ke dalam organisasi Turki Muda. Namanya mulai bersinar pada tahun 1334H/1915M ketika berhasil mengusir serangan sekutu di Darnadil. Pada Tahun 1388H/1919M dia mendirikan partai nasionalis Turki yang mengganti kedudukan Organisasi Persatuan dan pembangunan.
Diantara kerja besarnya yang terkenal adalah kemenangannya di Yunani dan mengusir sekutu dari Anatolia pada tahun 1340H/1921M. dia memiliki hubungan yang kuat dengan barat. Dia mengikat perjanjian Lauzan dengan mereka pada tahun 1342H/1923M yang diantara isinya adalah Turki harus menarik kekuasaannya dari seluruh Asia kecil, Konstantinopel dan Turkistan.
Pada tahun 1342/1923 M khilafah Islamiyah dihapus, lalu Turki berganti menjadi Republik sekuler. Musthafa Kamal menjadi presiden dengan model kepemimpinan diktator. Pemilihannya sebagai presiden telah dilakukan beberapa kali. Namun ini tidak menyelematkan rakyat hingga kematiannya pada tahun 1357H/1938M. sejak kekuasaan dipegang oleh Musthafa Kamal, Turki telah jauh secara total dari Islam. Dia menghapus Khilafah Islamiyah terakhir di Turki, dan memutuskan semua hubungan dengan Islam di negara-negara Islam. Dia mengganti undang-undang Usmani dengan undang-undang modern (Swiss), lalu mendorong Turki ke arah sekularisme (paham yang memisahkan agama dari dunia)[15].
E.     Kemunduran Dan Kehancuran Turki Usmani
Setelah Sultan Sulaiman al-Qanuni wafat (1566 M), kerajaan Turki Usmani mulai memasuki fase kemundurannya. Akan tetapi, sebagai sebuah kerajaan yang sangat besar dan kuat, kemunduran tidak langsung terlihat. Sultan Sulaiman al-Qanuni diganti oleh Salim II (1566-1573 M). Di masa pemerintahannya terjadi per­empuran antara armada laut Kerajaan Usmani dengan armada laut Kristen yang terdiri dari angkatan laut Spanyol, angkatan laut Bundukia, angkatan laut Sri Paus, dan sebagian kapal para pendet­a Malta yang dipimpin Don Juan dari Spanyol. Pertempuran itu terjadi di Selat Liponto (Yunani). Dalam pertempuran ini Turki Usmani mengalami kekalahan yang mengakibatkan Tunisia dapat direbut oleh musuh. Baru pada masa Sultan berikutnya, Sultan Murad III, pada tahun 1575 M Tunisia dapat direbut kembali.
Walaupun Sultan Murad III (1574-1595 M) berkepribadian jelek dan suka memperturutkan hawa nafsunya, Kerajaan Usmani pada masanya berhasil menyerbu Kaukasus dan menguasai Tiflis di Laut Hitam (1577 M), merampas kembali Tabriz, ibu kota Safawi, menundukkan Georgia, mencampuri utusan dalam negeri Polandia, dan mengalahkan gubernur Bosnia pada tahun 1593 M[16]. Namun kehidupan moral Sultan yang jelek menyebabkan timbulnya kekacauan dalam negeri. Kekacauan ini makin menja­di-jadi dengan tampilnya Sultan Muhammad III (1595-1603 M), pengganti Murad III, yang membunuh semua saudara laki-lakinya berjumlah 19 orang dan menenggelamkan janda-janda ayahnya sejumlah 10 orang demi kepentingan pribadi. Dalam situasi yang kurang baik itu, Austria berhasil memukul Kerajaan Usma­ni. Meskipun Sultan Ahmad I (1603-1617 M), pengganti Muhammad III, sempat bangkit untuk memperbaiki situasi dalam negeri, tetapi kejayaan Kerajaan Usmani di mata bangsa-bangsa Eropa sudah mulai memudar. Sesudah Sultan Ahmad I (1603­1617 M ), situasi semakin memburuk dengan naiknya Mustafa I (masa pemerintahannya yang pertama (1617-1618 M) dan kedua, (1622-1623 M). Karena gejolak politik dalam negeri tidak bisa diatasinya, Syaikh al-Islam mengeluarkan fatwa agar ia turun dan tahta dan diganti oleh Usman II (1618-1622 M). Namun yang tersebut terakhir ini juga tidak mampu memperbaiki keadaan. Dalam situasi demikian bangsa Persia bangkit mengadakan perla­wanan merebut wilayahnya kembali. Kerajaan Usmani sendiri tidak mampu berbuat banyak dan terpaksa melepaskan wilayah Persia tersebut. Langkah-langkah perbaikan kerajaan mulai diusahakan oleh Sultan Murad IV (1623-1640 M). Pertama-tama ia mencoba menyusun dan menertibkan pemerintahan. Pasukan Jenissari yang pernah menumbangkan Usman II dapat dikuasai­nya. Akan tetapi, masa pemerintahannya berakhir sebelum ia berhasil menjernihkan situasi negara secara keseluruhan.
Situasi politik yang sudah mulai membaik itu kembali merosot pada masa pemerintahan Ibrahim (1640-1648 M), karena ia termasuk orang yang lemah. Pada masanya ini orang-orang Venetia melakukan peperangan laut melawan dan berhasil mengusir orang-­orang Turki Usmani dan Cyprus dan Creta tahun 1645 M. Keka­lahan itu membawa Muhammad Koprulu (berasal dari Kopru dekat Amasia di Asia Kecil) ke kedudukan sebagai wazir atau shadr al-a' zham (perdana menteri) yang diberi kekuasaan abso­lut[17]. Ia berhasil mengembalikan peraturan dan mengkonsolidasi­kan stabilitas keuangan negara. Setelah Koprulu meninggal (1661 M), jabatannya dipegang oleh anaknya, Ibrahim. Ibrahim me­nyangka bahwa kekuatan militernya sudah pulih sama sekali. Karena itu, ia menyerbu Hongaria danmengancam Vienna. Namun, perhitungan Ibrahim meleset, ia kalah dalam pertempuran itu secara berturut-turut.
Pada masa-masa selanjutnya wilayah Turki Usmani yang luas itu sedikit demi sedikit terlepas dan kekuasaan­nya, direbut oleh negara-negara Eropa yang baru mulai bangun. Pada tahun 1699 M terjadi "Perjanjian Karlowith" yang memaksa Sultan untuk menyerahkan seluruh Hongaria, sebagian besar Slovenia dan Croasia kepada Hapsburg; dan Hemenietz, Padolia, Ukraina, Morea, dan sebagian Dalmatia kepada orang-orang Venetia. Pada tahun 1770 M, tentara Rusia mengalahkan armada kerajaan Usmani di sepanjang pantai Asia Kecil. Akan tetapi, tentara Rusia ini dapat dikalahkankembali oleh Sultan Mustafa III (1757-1774 M) yang segera dapat mengkonsolidasi kekuatannya.
Sultan Mustafa III diganti oleh saudaranya, Sultan Abd Hamid (1774-1789 M), seorang yang lemah. Tidak lama setelah naik tahta, di Kutchuk Kinarja ia mengadakan perjanjian yang dinamakan "Perjanjian Kinarja" dengan Catherine II dari Rusia. Isi perjanjian itu antara lain (1) Kerajaan Usmani harus menyerah­kan benteng-benteng yang berada di Laut Hitam kepada Rusia dan memberi izin kepada armada Rusia untuk melintasi selat yang menghubungkan Laut Hitam dengan Laut Putih, dan (2) Kerajaan Usmani mengakui kemerdekaan Kimian (Crimea).
Demikianlah proses kemunduran yang terjadi di Kerajaan Usmani selama dua abad lebih setelah ditinggal Sultan Sulaiman al-Qanuni. Tidak ada tanda-tanda membaik sampai paroh pertam a abad ke-19 M. Oleh karena itu satu persatu negeri-negeri di Eropa yang pernah dikuasai kerajaan ini memerdekakan diri. Bukan hanya negeri-negeri di Eropa yang memang sedang mengalami kemajuan yang memberontak terhadap kekuasaan Kerajaan Usmani, tetapi juga beberapa daerah di Timur Tengah mencoba bangkit memberontak. Di Mesir kelemahan-kelemanan Kerajaan Usmani membuat Mamalik bangkit kembali. Di bawah kepemim­pinan Ali Bey, pada tahun 1770 M, Mamalik kembali berkuasa di Mesir, sampai datangnya Napoleon Bonaparte dan Perancis tahun 1798M.19 Di Libanon dan Syria, Fakhr al-Din, seorang pemimpin Druze berhasil menguasai Palestina, dan pada tahun 1610 M merampas Ba'albak dan mengancam Damaskus. Fakhr al-Din baru menyerah tahun 1635 M. Di Persia, Kerajaan Safawi ketika masih Jaya beberapa kali mengadakan perlawanan terhadap Kera­jaan Usmani dan beberapa kali pula ia keluar sebagai pemenang. Sementara itu, di Arabia bangkit kekuatan baru, yaitu aliansi antara pemimpin agama Muhammad ibn Abd al-Wahhab yang dikenal dengan gerakan Wahhabiyah dengan penguasa lokal Ibn Sa'ud. Mereka berhasil menguasai beberapa daerah di jazirah Arab dan sekitarnya di awal paroh kedua abad ke-18 M. Dengan demikian, pemberontakan-pemberontakan yang terjadi di Kerajaan Usmani ketika ia sedang mengalami kemunduran, bukan saja terjadi di daerah-daerah yang tidak beragama Islam, tetapi juga di daerah-daerah yang berpenduduk muslim. Gerakan-gerakan se­perti itu terus berlanjut dan bahkan menjadi lebih keras pada masa-­masa sesudahnya, yaitu pada abad ke-19 dan ke-20 M. Ditambah dengan gerakan pembaharuan politik di pusat pemerintah Kerajaan Usmani berakhir dengan berdirinya Republik Turki pada tahun 1924 M.
  
Banyak faktor yang menyebabkan Kerajaan Usmani itu mengalami kemunduran, di antaranya adalah:
1.        Wilayah Kekuasaan yang Sangat Luas
Administrasi pemerintahan bagi suatu negara yang amat luas wilayahnya sangat rumit dan kompleks, sementara adminis­trasi pemerintahan Kerajaan Usmani tidak beres. Di pihak lain, para penguasa sangat berambisi menguasai wilayah yang sangat luas, sehingga mereka terlibat perang terus menerus dengan berbagai bangsa. Hal ini tentu menyedot banyak potensi yang seharusnya dapat digunakan untuk membangun negara[18].
2.         Heterogenitas Penduduk
Sebagai kerajaan besar, Turki Usmani menguasai wilayah yang amat luas, mencakup Asia Kecil, Armenia, Irak, Shia, Hejaz, dan Yaman di Asia; Mesir, Libia, Tunis, dan Aljazair di Afrika; dan Bulgaria, Yunani, Yugoslavia, Albania, Ho­ngaria, dan Rumania di Eropa[19]. Wilayah yang luas itu didiami oleh penduduk yang beragam, baik dan segi agama, ras, etnis, maupun adat istiadat. Untuk mengatur penduduk yang beragam dan tersebar di wilayah yang luas itu, diperlukan suatu organisasi pemerintahan yang teratur. Tanpa didukung oleh administrasi yang baik, Kerajaan Usmani hanya akan menanggung beban yang berat akibat heterogenitas tersebut. Perbedaan bangsa dan agama acap kali melatar belakangi terjadinya pemberontakan dan peperangan.

3.         Kelemahan Para Penguasa
Sepeninggal Sulaiman al-Qanuni, Kerajaan Usmani diperin­tah oleh sultan-sultan yang lemah, baik dalam kepribadian terutama, dalam kepemimpinannya. Akibatnya pemerintah­an menjadi kacau. Kekacauan itu tidak pemah dapat diatasi secara sempurna, bahkan semakin lama menjadi semakin parah.
4.      Budaya
Pungli merupakan perbuatan yang sudah umum terjadi dalam Kerajaan Usmani. Setiap jabatan yang hendak diraih oleh seseorang hams "dibayar" dengan sogokan kepada orang yang berhak memberikan jabatan tersebut. Berjangkitnya budaya pungli ini mengakibatkan dekadensi moral kian merajalela yang membuat pejabat semakin rapuh.
5.         Pemberontakan tentara Jenissari
Kemajuan ekspansi Kerajaan Usmani banyak ditentukan oleh kuatnya tentara Jenissari. Dengan demikian dapat diba­yangkan bagaimana kalau tentara ini memberontak. Pembe­rontakan tentara Jenissari terjadi sebanyak empat kali, yaitu pada tahun 1525 M, 1632 M, 1727 M, dan 1826 M.
6.         Merosotnya Ekonomi
Akibat perang yang tak pernah berhenti perekonomian nega­ra merosot. Pendapatan berkurang sementara belanja negara sangat besar, termasuk untuk biaya perang.
7.      Terjadinya Stagnasi dalam lapangan Ilmu dan Teknologi Kerajaan Usmani kurang berhasil dalam pengembangan ilmu dan teknologi, karena hanya mengutamakan pengembangan kekuatan militer. Kemajuan militer yang tidak diimbangi oleh kemajuan ilmu dan teknologi menyebabkan kerajaan tidak sanggup menghadapi persenjataan musuh dari Eropa yang lebih maju. Tidak terjadinya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam Kerajaan Usmani, ada kaitan dengan perkembangan metode berfipikir tradisional di kalangan umat Islam. Hal itu juga sejalan dengan menurunnya semangat berfikiran bebas akibat tidak berkembangnya pemikiran filsafat sejak masa al-Ghazali.
Demikianlah proses kemunduran kerajaan besar Usman Pada masa selanjutnya, di periode modern, kelemahan kerajaan ini menyebabkan kekuatan-kekuatan Eropa tanpa segan-segan menjajah dan menduduki daerah-daerah muslim yang dulunya berada di bawah kekuasaan Kerajaan Usmani, terutama di Timur Tengah dan Afrika Utara[20].
F.      Kesimpulan
Kerajaan Turki Usmani merupakan salah satu kerajaan besar yang paling lama eksistensinya dibanding kerajaan Mughal di India, dan Safawi di Persia, kerajaan ini berkuasa kurang lebih 625 tahun dengan pemimpinnya yang tidak kurang dari 38 pemimpin. Kerajaan ini telah memperluas wilayah ekspansinya ke wilayah Eropa, Timur tengah, Mesir dan Afrika Utara, serta menanklukan kerajaan konstantinopel.
Pada perkembangannya kerajaan Turki Usmani ini menghadapi berbagai problematika, diantaranya adanya gerakan-gerakan pembaharuan di dalam kerajaan Turki Usmani. Selanjutnya sejak kekuasaan dipegang oleh Musthafa Kamal, sistem Khilafah Islamiyah berakhir di Turki dan mengganti undang-undang Usmani dengan undang-undang modern (Swiss) yang  mendorong Turki ke arah sekularisme (paham yang memisahkan agama dari dunia).


DAFTAR PUSTAKA

Al-‘Usairy, Ahmad (2003). Sejarah Islam, Jakarta:Akbar Media Eka Sarana
Hitti, Philip K. (1970).  History of the Arabs, London:Macmillan Press
Ibrahim, Hassan (1989).  Sejarah dan Kebudayaan Islam, Yogyakarta:Kota Kembang
Lapidus, M. Ira (1999). Sejarah Sosial Umat Islam,  Jakarta:PT. Raja Grafindo Persada  
Mughni, Syafiq A. (1997). Sejarah Kebudayaan Islam,  Jakarta:Logos
Nasution, Harun (1985). Islam ditinjau dari berbagai aspeknya, Jakarta:UI Press
Nasution, Harun (1992). Pembaharuan dalam Islam: sejarah Pemikiran dan Gerakan, Jakarta:Bulan Bintang
Sodikin, Abuy (2003). Aliran Modern Islam di Mesir dan Turki, Bandung:Tarbiyah Press
Sunanto, Musyrifah (2007).  Sejarah Islam Klasik: Perkembangan Ilmu Pengetahuan Islam, Jakarta:Kencana
Syalabi, Ahmad (1988). Sejarah dan Kebudayaan Islam: Imperium Turki Usmani, Jakarta:Kalam Mulia
Yatim, Badri (1995). Sejarah Peradaban Islam,  Jakarta:PT. Raja Grafindo Persada



[1] Hassan Ibrahim Hassan, Sejarah dan Kebudayaan Islam, (Yogyakarta:Kota Kembang, 1989), h.324-325
[2] Ahmad Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam: Imperium Turki Usmani, (Jakarta:Kalam Mulia, 1988), h.2
[3] Harun Nasution, Islam ditinjau dari berbagai aspeknya,Jilid I, (Cet.1;Jakarta:UI Press, 1985), h.84
[4] Syafiq A. Mughni, Sejarah Kebudayaan Islam,  (cet.1;Jakarta:Logos, 1997), h.53-67
[5] Ahmad Al-‘Usairy, Sejarah Islam, Jakarta:Akbar Media Eka Sarana, 203, hal.359-360
[6] Philip K. Hitti, History of the Arabs, London:Macmillan Press, 1970, hal.918-919
[7] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (cet.3; Jakarta:PT. Raja Grafindo Persada, 1995), h.135
[8] Philip K. Hitti, History of the Arabs, ( London:Macmillan Press, 1970), h. 713-714
[9] Ibid,. hal.715
[10] Musyrifah Sunanto, Sejarah Islam Klasik: Perkembangan Ilmu Pengetahuan Islam, (cet.3; Jakarta:Kencana, 2007), h.242-246
[11] Ira M. Lapidus, Sejarah Sosial Umat Islam, (cet.1; Jakarta:PT. Raja Grafindo Persada,  1999), h.503
[12] Badri Yatim, op. cit,. hal.136-138
[13] Abuy Sodikin, Aliran Modern Islam di Mesir dan Turki, (cet.10; Bandung:Tarbiyah Press, 2003), h.77-80
[14] Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam: sejarah Pemikiran dan Gerakan, (cet.9; Jakarta:Bulan Bintang, 1992), h.105
[15] Ahmad Al-‘Usairy, op. cit., h. 372-373
[16] Hassan Ibrahim Hassan, op. cit,. h.339
[17] Ibid, h. 339
[18] Ahmad Syalabi, op. cit., h.49
[19]Harun Nasution, op.cit., h. 84
[20] Badri Yatim, op. cit., h.167-169

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Recent Posts